Sense of Belonging: Menaikkan Iman melalui kinerja

Finansial Kuno

Menarik untuk direnungkan ketika saya membuka halaman-halaman awal dari buku yang ditulis oleh Dermawan Wibisono, Ph.D. Disana beliau menuliskan secara ringkas mengapa sistem pengukuran kerja konvensional yang berbasis pada evaluasi finansial telah usang dan harus menggunakan sistem pengukuran Sistem Manajemen Kinerja. Salah satu yang menarik diulas adalah pada poin pertama yaitu: Lack of Relevant.

Lack of Relevant berarti bahwa sistem pengukuran konvensional (atau lebih suka saya sebut kuno) tidak sesuai untuk digunakan semua level, baik corporate level, business level, operational management level dan shop floor level. Sehingga pengukuran yang tidak tepat tersebut kurang memberikan makna bagi pelaku disetiap levelnya, terutama pada level bawah. Misalkan pada level operator mesin yang mencetak 10 barang cacat (No Go), memang secara akuntansi dapat diukur berapa kerugian dari 10 barang yang cacat tersebut misalkan Rp. 1 juta. Namun jarang sekali operator akan memikirkan 1 jt yang hilang tadi sebagai kerugian karena kinerjanya yang tidak maksimal, bahkan paling buruk ia berpikir bahwa 1 jt bagi perusahaan besar itu kecil, bukan masalah.

Sense Of Belonging
Adalah sistem manajemen kinerja yang dirancang sedemikian rupa yang terkandung didalamnya berbagai variabel sehingga memberikan makna bagi pelaku organisasi. Pelaku dalam setiap level memiliki sense of belonging (rasa memiliki) terhadap produk dan kualitas, sehingga diharapkan akan menghasilkan produk atau jasa yang terbaik dengan exellence performance-nya.

Di lain sisi, dalam teologi Islam ada sebuah kaidah yang menyatakan “iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan berkurang dengan kemaksiatan”. Ketaatan dalam konteks ini sangat luas, bukan sekedar ketaatan vertikal antara The Creator and The Human, namun juga tercakup didalamnya ketaatan yang terjadi antara manusia dan manusia, demikian pula berlaku serupa dalam kemaksiatan.

Seorang Muslim adalah makhluk yang dikenakan kewajiban terhadap Tuhannya dan kewajiban terhadap sesama manusia. Dalam realita kekinian, peningkatan kinerja sangat dituntut agar kualitas kehidupan manusia melalui pemenuhan kebutuhan semakin meningkat, padahal jelas seorang Muslim memiliki faith yang harus dijaga dan dipupuk dengan ibadah atau ketaatan. Apakah bisa iman dipupuk dan dijaga dengan ketaatan berupa kinerja yang maksimal? Tulisan ini akan mengurai bagaimana Islam memandang sense of belonging yang menjadi core value pada kinerja maksimal dalam rangka faith increase sesuai dalam aqidah Islam.

Sebagai makhluk yang beragama, terutama Islam, sudah seyogyanya seorang atau suatu organisasi Islam berpegang teguh terhadap nilai-nilai Islam yang terdapat dalam Al Quran dan Al Hadits. Islam bukan agama yang hanya mengatur ritual vertikal, namun juga mengatur ritual horizontal yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari baik dalam lingkup rumah tangga juga dalam lingkup kerja, secara unik saya meminjam istilah Prof. Andy Bangkit dalam papernya yang menyatakan value Islam “Poros horizontal bermakna vertikal”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. [QS. Al-Anfal : 27]
Dalam ayat ini pertama-tama Islam menegaskan pentingnya menjaga amanah, yang dalam konteks kekinian bisa kita artikan sebagai pekerjaan atau profesi yang diemban. Secara eksplisit Islam menjelaskan value horizontal bermakna vertikal. Horizontal yaitu dari kata “amanah-amanah yang dipercayakan padamu” yang amanah ini dapat berupa perintah Allah maupun berupa pekerjaan dari manusia. Kemudian bermakna vertikal karena Islam mengkaitkan antara keimanan dengan menjaga amanah dari manusia.

Landasan normatif berikutnya ialah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Barang siapa yang bermalam dalam keadaan badannya capek karena pekerjaannya, dia bermalam dalam keadaan terampuni dosanya.” [Lihat:Fathul Bari, 4:353]. Dalam hadits ini dijelaskan mengenai kondisi fisik yang lelah setelah melakukan hal-hal produktif, yaitu pekerjaannya atau profesinya. Secara eksplisit dalam hadits ini menekankan adanya kinerja maksimal dengan nilai vertikal yaitu diampuni dosanya (forgiveness of sin). Kemudian secara implisit bermakna bahwa jika bekerja hingga lelah dalam rangka menunaikan hadits ini maka kelelahan memiliki value berupa naiknya kualitas iman karena menunaikan ajaran Islam yang bersumber dari hadits.

Dari dua landasan normatif diatas sebetulnya sudah mencukupi untuk menjadi jawaban atas rumusan masalah diawal pembahasan, bahwa kinerja yang dalam konteks ini sebagai poros horizontal dapat meningkatkan iman seorang Muslim. Terlebih lagi jika kinerjanya ini secara maksimal atau sungguh-sungguh, maka akan masuk pula kedalam hadits lain, “Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi lemah.” [HR. Muslim No.4816].

Sebagai pelengkap penjelasan, dapatlah ditengok dari sirah Nabawiyah bahwa Nabi adalah individu yang tinggi etos kerjanya dalam bidang perniagaan, demikian pula ‘Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf. Sehingga jika dinilai secara keseluruhan, baik segi keduniaan maupun akhirat Nabi sebut masanya adalah sebaik-baik generasi.

Penyusun:
Adib Rofiqi
————-
Referensi:
¹ Al Quran dan Terjemahan
² Fathul Baari Terj.
³ Aplikasi Android Hadits Lidwa
⁴ Dermawan Wibisono, 2006, Manajemen Kinerja, Jakarta: Penerbit Erlangga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s