Tauhid As A Core Value of Mosque Management

Prolog
Dalam sejarah perkembangannya, masjid memiliki peran penting dalam proses dakwah dan pembinaan umat, baik sejak masa Nabi ﷺ hingga masa sekarang. Nabi ﷺ banyak membuat majelis ilmu di masjid untuk mengajarkan berbagai sunnah di dalamnya, baik dalam masalah aqidah, muamalah maupun akhlak. Bahkan menurut catatan sejarah, strategi pertama yang dilakukan Nabi ﷺ dalam membangun masyarakat Islami adalah mendirikan masjid Nabawi . Menurut Moh. E. Ayub yang dikutip oleh Rani Puspita Pertiwi secara teoritis-konseptual, masjid merupakan pusat kebudayaan Islam , sehingga membangun masyarakat dengan pusat informasi pada masjid adalah langkah yang strategis. Dalam perkembangannya saat ini, peran masjid mengalami perluasan aspek.

Masjid dihadapkan pada kenyataan realitas kekinian yang menuntut untuk menjadi solusi atas permasalahan keseharian umat Islam. Menjadi sebuah keniscayaan bahwa masjid akan selalu makmur manakala unsur-unsur yang mendukung keberlangsungan dapat dipenuhi. Fungsi dan peran masjid sendiri jika diamati pada zaman kejayaan Islam memiliki fungsi dan peran yang kompleks, bukan hanya sebagai sarana ibadah mahdhoh, masjid juga memiliki peran sebagai sarana pendidikan umat, pemerintahan, dan berbagai aspek sosial yang dapat dijadikan acuan dasar pengembangan fungsi dan peran masjid di era kekinian, dengan memiliki nilai dasar yang akan menjadi framework manajemen masjid adalah dakwah dan ishlah (seruan menuju Islam kaffah dan perbaikan), tarbiyah (pendidikan), siyasah (politik) dan al mashlahatul ijtima’iyyah atau social welfare.

Dakwah dan Ishlah

Dakwah adalah aktivitas mengajak manusia baik yang muslim atau kafir untuk menjadikan Islam sebagai way of life atau worldview kehidupan. Segala macam fenomena yang terjadi di dunia dapat dilihat dan dipertimbangkan dengan Islam sebagai tolak ukur dalam penginterpretasian dan pengambilan keputusan. Islam sebagai agama komprehensif jelas mengatur setiap inci kehidupan, maka seyogyanya seorang muslim maupun non muslim memegang erat nilai-nilai Islam sebagai rules of life, karena memang Islam berlaku universal, bukan hanya untuk golongan terbatas seperti yang diserukan oleh Islam Nusantara, dalam bahasa lain dikatakan poros horizontal bermakna vertikal, itulah salah satu worldview Islam yang dikemukakan Prof. Andy Bangkit.

Ishlah sendiri secara terminologi bermakna perbaikan amal yang mencakup seluruh aspek untuk lebih ikhlas dan ittiba’. Contoh konkretnya ialah ketika saat sholat dan posisi rukuk dengan punggung tidak diluruskan, maka bentuk ishlahnya ialah meluruskan punggung seperti yang dituntunkan Nabi ﷺ. Contoh lain misalnya ketika bermuamalah dalam jual beli, yang pada umumnya terdapat unsur ghoror, maka ishlahnya adalah menghilangkan unsur ghoror.
Masjid dalam konteks dakwah dan ishlah memiliki peran sebagai pusat aktivitas dakwah dan ishlah yang termanajemen, dengan kata lain manajemen dakwah dan ishlah terpusat pada masjid yang merupakan lingkup terkecil dari komunitas muslim Indonesia. Hampir setiap dusun memiliki satu masjid, hal ini akan sangat mendukung aktivitas manajemen dakwah dan ishlah.

Dengan adanya terminologi manajemen dalam dakwah dan ishlah, maka berlaku pula fungsi-fungsi planning, organizing, actuating, controlling yang menjadi keharusan dalam diskursus manajemen. Subyek dari manajemen dakwah dan ishlah berbasis masjid adalah jajaran Eksekutif Takmir (ET) beserta perangkat Anggota Takmir (AT) dan Remaja Masjid (RM). Obyek dari manajemen dakwah dan ishlah berbasis masjid sendiri adalah masyarakat sekitar masjid sebagai obyek utama, dan masyarakat umum sebagai obyek sekunder, dan masyarakat maya atau lebih dikenal dengan istilah netizen sebagai obyek tersier.

Tentu adanya gagasan ini tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya gagasan lain yang menjadi penyokong, melainkan harus ada sistem pendukung yakni manajemen operasional masjid. Manajemen operasional sendiri dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas menciptakan barang atau jasa dengan merubah input menjadi output melalui proses transformasi.  Input berupa bangunan, alat perkakas, alat elektronik, SDM, listrik, kamera, dan lain sebagainya. Sedangkan outputnya adalah pelayanan pada jama’ah, kegiatan dakwah, kualitas kebersihan masjid, baiknya tata letak interior masjid, kegiatan pendidikan dan lain sebagainya.
Pada perkembangannya nanti, manajemen dakwah dan ishlah berbasis masjid ini dapat pula bekerjasama dengan lembaga-lembaga dakwah yang berkompeten dibidangnya.

Tarbiyyah

Nilai dasar lain yang harus ada pada manajemen masjid adalah tarbiyyah atau pendidikan. Yang membedakan tarbiyyah dengan dakwah ialah penekanan pada penjagaan kesinambungan qualitas keilmuan obyek.
Yang melatar belakangi gagasan ini adalah melihat fenomena banyaknya mualaf yang kembali murtad setelah memeluk Islam, atau kembalinya ke hidup yang jelek setelah mendapat hidayah ketaatan, juga stagnannya kualitas keilmuan dan keimanan individu yang sudah menjadi muslim sejak lahir. Derivatnya ialah, banyaknya akademis perguruan tinggi namun kualitas keilmuan agamanya masih setara SD. Ini adalah suatu realita yang ironi ditengah negara yang mendeklarasikan diri sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar didunia. Yang kemudian rendahnya kualitas keilmuan agama ini justru dijadikan ideologi pembenaran munculnya Islam Nusantara.

Tarbiyyah berbasis masjid ini bukan hal yang baru, bahkan sudah menjadi tradisi yang turun temurun terutama di Yogyakarta. Berbagai macam bentuk pendidikan berbasis masjid termanifestasi dalam aktivitas Taman Pendidikan Al Quran (TPA), tadarus dan kajian rutin. Memang yang paling terkenal adalah TPA, karena memang sarat dengan makna pendidikan, terutama pendidikan usia dini. Sedangkan tadarus memang populer, namun sisi pendidikan lebih minim daripada TPA, karena memang fokus utamanya adalah penguasaan membaca Al Quran. Kajian rutin adalah bentuk pendidikan kedua yang terpopuler setelah TPA, telah ada sejak dahulu dan kini semakin berkembang kuantitas dan kualitasnya terutama di daerah Pogung, Jogokariyan, dan sekitar kampus UGM yang notabene kajian-kajian rutin ini diramaikan para mahasiswa dan pelajar. Berbeda dengan pengajian, kajian memiliki silabus atau kurikulum atau juga dapat berbentuk bedah kitab, sehingga mad’u dididik untuk mempelajari ilmu alat yang berkesinambungan seperti dalam pendidikan formal. Maka perlu dipertanyakan bagaimana kualitas ilmu keIslaman jika sistem pembelajarannya hanya pengajian dan bukannya kajian.

Siyasah (Politik)

Politik dalam hal ini adalah politik yang berdasarkan Islam, bukan politik berdasarkan gagasan ideologi barat yang notabene demokrasi atau liberal. Tujuh abad hijriyah silam Islam mengalami kemunduran karena merebak dan mengakarnya faham tasawwuf yang menolak atau enggan membahas politik, dengan alasan utama bahwa politik adalah urusan dunia. Padahal jika merunut historisitas dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya sangat kental dengan asas-asas politik, terutama setelah tauhid menghunjam ke sanubari para sahabat khususnya pada periode Madinah.
Berkebalikan dengan kondisi masa silam, saat ini setiap orang dengan lugas dan bebas berbicara politik ibaratkan gorengan. Berbicara politik tanpa ilmu Islam. Akhirnya muslimlah yang menjadi korban politik kepentingan non muslim dan muslim yang awwam.

Bersumber dari hal tersebut, maka masjid harus memiliki nilai siyasah, yang tentu penyampaiannya dapat dengan melalui dakwah atau tarbiyyah. Namun menjadi perlu untuk digarisbawahi bahwa pelaksanaan nilai siyasah ini setelah aqidah tauhid benar-benar telah dipahami dan menjadi prioritas utama dakwah. Tanpa nilai tauhid yang mendasari berbagai gerakan politik hanya akan menghasilkan chaos, seperti yang terjadi di Mesir, dan sejumlah negara yang bernafaskan Islam. Politik tanpa tauhid sebagai core value justru akan menjadi alat hegemoni baru bagi kepentingan non muslim untuk menjajah negeri-negeri Islam dengan melancarkan taktik klasik devide et impera di kalangan internal umat Islam.
Selain tauhid sebagai nilai dasar, tauhid juga menjadi tujuan dari siyasah. Siyasah dimaksudkan agar kehidupan spiritual dan jasmani umat meningkat, sehingga terwujudlah al mashlahatul ijtima’iyyah (Social Welfare) atau kesejahteraan sosial dan menipisnya jurang antara miskin dan kaya.

Al Mashlahatul Ijtima’iyah (Social Welfare)

Sebagai alternatif manakala nilai politik belum dapat terwujud sehingga kesejahteraan sosial menjadi tertunda pemenuhannya. Kesejahteraan sosial dapat ditambahkan menjadi poin tersendiri dalam core value manajemen masjid. Pada poin ini yang menjadi obyek manajemen adalah harta kekayaan dari orang muslim kaya. Mengapa muslim? Karena Indonesia belum menjadi negara Islam sehingga berlaku hukum Islam didalamnya yang dalam hukum Islam sendiri orang kafir dibebankan beberapa kewajiban pajak, maka yang diberdayakan oleh manajemen masjid adalah harta orang muslim yang kaya. Dengan kata lain, obyeknya adalah sedekah, infaq, zakat, waqaf dan sebagainya. Masjid dapat bertransformasi menjadi lembaga seperti BMT atau lembaga zakat. BAZNAS sendiri hanya berada sampai tingkat kabupaten, sehingga keakuratan dan penarikan zakat kurang detail dan mendapat perhatian serius.

Padahal jika dicermati, kejayaan Islam adalah menakala rukun Islam dan syariat-syariat Islam lain dapat terwujud. Di Indonesia sendiri rukun Islam kurang menjadi perhatian pokok padahal Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, mengalahkan Arab Saudi yang merupakan tempat berkembangnya Islam. Namun menjadi sangat ironi manakala untuk rukun Islam kedua yaitu sholat, tidak terdapat dalam Undang-Undang, padahal sholat adalah masalah yang sangat serius, bahkan disuatu riwayat dikatakan bahwa yang membedakan muslim dan kafir adalah sholat, yang meninggalkan sholat maka kafir. Namun tidak ada dalam Undang-Undang yang mengatur misalnya ketika waktu sholat tiba toko, mal, pusat perbelanjaan, kampus, instansi dan lembaga-lembaga diwajibkan menghentikan aktivitas dan kemudian melakukan ibadah sholat fardhu, atau kemudian jika melanggar maka ijin usaha tersebut akan dicabut. Jika peraturan dasar seperti ini saja tidak diindahkan maka bagaimana dengan masalah lain yang lebih kompleks daripada sholat seperti misalnya zakat dan haji.
Melalui manajemen masjid ini, zakat, infaq, sedekah akan diberdayakan sehingga pemungutan dan pembagian zakat akan lebih mudah dan menghemat biaya. Karena hampir setiap dusun memiliki masjid, sangat dimungkinkan jika tiap tahunnya takmir melakukan pencatatan lalu memungut zakat untuk kemudian dibagikan pada yang berhak, atau menerima infaq dan sedekah dan kemudian diberdayakan.

Penyusun:
Adib Rofiqi
—————–
Referensi:
Al Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung Muhammad ﷺ Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. 2001. CV.Mulia Sarana Press Jakarta
Pertiwi, Rani Puspita. Manajemen Dakwah Berbasis Masjid. 2008.
Heizer, J dan Render, B. Manajemen Operasi. 2015. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s