Penyakit Kekinian

Menjadi hal yang lumrah/ lazim rasanya saat ini melakukan atau membuka atau mengerjakan kegiatan ekonomi tanpa mengetahui landasan normatif sebagai Muslim apalagi di negara yang terkenal sebagai The Biggest Muslim Society in the world, miris. Negara dengan jumlah Muslim terbanyak namun dengan kualiatas yang rendah alias hanya mengedepankan kuantitas.
Seperti halnya fenomena Tukar Uang menjelang Hari Raya ‘Idul Fitri alias Lebaran. Dalam banyak situs Islami seperti di KonsultasiSyariah.com misalnya telah membahas bahwa tradisi/ kegiatan tukar uang ini adalah bentuk riba. Dikatakan tradisi karena memang telah berjalan beberapa tahun belakangan di Indonesia, disebut juga tradisi karena memang bukan berasal dari ajaran Islam seperti yang termaktub dalam Al Quran dan Hadits.

Aneh, ketika lalu dijelaskan bahwa kegiatan seperti ini adalah bentuk riba, lalu banyak orang yang berkomentar sinis seakan mengucapkan “Jangan menutup pintu rizki oranglain dengan dalil anda..!” atau “Bisanya mengharamkan, kasih solusi dong, jangan sekedar mengharamkan tapi bungkam tidak memberi solusi..!”

Bukannya bersyukur atau berterimakasih karena diberitahu ada bahaya yang mengancam di depan mata, justru malah bernafsu menghujat. Pertanyaannya: sampai kapan? Sampai kapan pola pikir seperti ini dipelihara? Ini seperti menghamili anak orang lalu baru menikahi, bukan malah menikahi baru menghamili. Ini pola pikir pemerkosa!

Tidak jauh berbeda dengan: si A mencuri, lalu dinasehati bahwa mencuri itu dosa dan buruk. Lalu kemudian si A mencari masa di internet (netizen) untuk menyuarakan pemikirannya yang sedeng “Anda menutup rizki oranglain, bukankah Islam itu mudah?” Mengapa mencari suara dulu di internet? karena ia tahu jika menyuarakan kejahatan sendirian akan mudah ketahuan dan dihakimi masa. Solusinya: ia hanya perlu meyakinkan netizen kekinian yang kerjaannya ketik amin dan like foto ini untuk meyakini bahwa pencurian yang ia lakukan bukan kejahatan, tapi mata pencaharian. Belum lagi nanti ia mencari-cari fatwa orang yang “di-ulama-kan” dari ormas yang terkenal Liberal atau minimal ormas yang pemimpinnya Liberal untuk menjustifikasi pencuriannya dengan alasan: ini budaya. Lengkap sudah pasukan kebodohan..!

Lalu: sampai kapan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s