Organizational Behaviors & Islamic Work Ethics

Ada salah satu sub Bab dengan judul “Globalization,
Diversity, and Ethics”. Pembahasan mengenai etika adalah pembahasan yang menarik karena memang banyak literatur yang dapat dijadikan rujukan.
Perumusan etika dalam ruang lingkup kerja (etika kerja) tidak semata dimonopoli oleh organisasi, namun agama, budaya dan external environment juga mengambil peran penting dalam perumusan etika.

Hal ini semakin dikuatkan dengan munculnya essay fenomenal dari Max Webber mengenai etika kerja yang berlandaskan agama, bahkan sekte agama tertentu yang berjudul “The Protestan Work Ethic and the Spirit of Capitalism” pada tahun 1904. Bahkan dalam beberapa literatur Webber, ia menyatakan nilai etika Islam tidak mendukung kemajuan organisasi. Di lain sisi, ekonomi kapitalis jelas bertentangan dengan nilai-nilai ekonomi Islam. Dengan tujuan ekonomi yang berbeda, maka berbeda pula nilai sistem penunjang etika. Lalu bagaimanakah Islam merumuskan etika di ruang lingkup kerja? Sejauh mana riset ilmiah dilakukan?
Adalah S.H. Nashr pada tahun 1984 menulis bantahan mengenai apa yang ditulis Webber mengenai Islam dalam jurnalnya “Islamic Work Ethics”. Namun memang, popularitas Nashr dalam pembahasan etika kerja Islami kalah dengan Abbas J. Ali yang pada tahun 1988 melakukan penelitian mengenai etika kerja Islami. Penelitian ini menghasilkan skala penilaian etika kerja Islami dengan 46 butir pernyataan. 46 butir pernyataan ini pada tahun-tahun berikutnya, dibuat versi singkatnya menjadi 17 item pernyataan, dan versi singkat inilah yang sering digunakan para peneliti untuk meneliti mengenai etika kerja Islami. Yousef menyatakan, memang benar etika kerja Protestan memiliki dampak terhadap ekonomi barat terutama pada sistem kapitalis. Berbeda jauh dengan etika kerja Protestan yang menjadikan hasil sebagai tolak ukur keberhasilan, etika kerja Islami memiliki ciri khas sendiri, yaitu penekanan terhadap niat (intention) dan proses. Maka dalam ekonomi Islam, sering kita mendengar istilah ‘haram-halal’, ini adalah salah satu bentuk perhatian Islam terhadap proses yang benar dan aman bagi semua pelaku.
Islam dalam Al Quran dan Hadits sangat mendukung dan memerintahkan pemeluknya untuk kerja keras, bukan bermalas dengan alasan ‘ibadah vertikal’ seperti yang dilakukan oleh para pemeluk faham sufism.
Ada sedikit sisa pertanyaan dalam benak, sudahkah instrumen penelitian berupa angket pernyataan untuk meneliti etika kerja Islami menjadi manifestasi global sekaligus khusus dari ajaran Islam? Atau justru instrumen dibentuk berdasar nilai-nilai umum? Apakah instrumen ini valid dan reliabel untuk meneliti etika kerja Islami?
———
Reference:
-Abbas J. Ali, “Scalling An Islamic Work Ethic”, The Journal of Social Phsychology, Vol. 128 No. 5 (October, 1988)
-Darwish Abdulrahman Yousef, “Islamic Work Ethic: A Moderator between Organizational Commitment and Job Satisfaction in a Cross-Cultural Context”, Personnel Review, Vol. 30 No. 2 (March, 2001)
-M. Y. K. Marri, et. al., “The Impact of Islamic Work Ethics on Job Satisfaction and Organizational Commitment: A Study of Agriculture Sector of Pakistan”, International Journal of Business and Behavioral Sciences, Vol. 2 No.12 (December, 2012)
-Wahibur Rokhman, “The Effect of Islamic Work Ethics on Work Outcomes”, Electronic Journal of Business Ethics and Organization Studies, Vol. 15 No. 1 (January, 2010)
-Muhammad Shakil Ahmad, “Work Ethic: An Islamic Prospective”, International Journal of Human Sciences, Vol. 8 No. 1 (2011)
-Fred Luthans, Organizational Behavior 12th Ed, (New York: McGraw-Hill, 2011)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s