Islamic Work Ethic (Bag.2)

Ketika membahas mengenai dimensi suatu variabel, terutama pada pokok bahasan etika yang notabene subyektif, maka bayangan yang muncul ialah seputar asumsi dan perbedaan versi. Pada awal pembahasan mengenai etika kerja Islami, telah ditentukan batasan etika yang berdasarkan sistem Islam, yaitu berdasar Al Quran dan Al Hadits, dengan demikian pembahasan dimensi etika kerja Islami jelas akan diambil dari Al Quran dan Al Hadits.

Pada tahun 1988 Abbas J. Ali membuat skala penilaian untuk etika kerja Islami dengan 46 butir pernyataan tanpa menyebutkan dimensi.[1] Pada tahun 2008, Ali menjabarkan beberapa poin mengenai etika kerja Islami yang diambil dari sabda Nabi ﷺ menjadi 11 poin, yaitu:[2]

  • Pursuing legitimate business. Nabi Muhammad fdfa secara eksplisit memerintahkan pada pengikutnya bahwa pekerjaan yang berguna adalah yang memberikan manfaat pada masyarakat dan yang lainnya. Kemudian, mereka yang bekerja keras akan diberikan balasan berupa pahala. Beliau bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaatnya untuk orang lain.
  • Wealth must be earned. Dalam Islam, diakui bahwa masing-masing orang memiliki kapasitas yang berbeda. Yaitu kapasitas dan keberadaan peluang yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan kesejahteraan. Melaksanakan kegiatan ekonomi, harus berdasarkan moralitas dan pondasi yang sah. Seperti yang dinyatakan dalam al-Quran (QS 4: 29-30), “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah.”
  • Quality of work. Bangsa Arab pada masa sebelum Islam kurang disiplin dan komitmen yang mereka miliki hanya terbatas pada kelompok utama. Nabi Muhammad ﷺ mengetahui fakta ini, sebagai negarawan dan pembaharu, sehingga beliau mencoba untuk mengubah komunitas Arab menjadi masyarakat fungsional. Penekanan yang dilakukannya terhadap kedisiplinan dan niat komitmen tidak hanya untuk menyoroti esensi dari bekerja, akan tetapi juga untuk menggambarkan hubungan di antara kepercayaan dengan pekerjaan dan akhirnya dapat mengarahkan umat muslim menjadi entitas aktif secara ekonomi dan politik. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya (melakukannya dengan benar)”.
  • Rasulullah ﷺ menyuruh umat Islam untuk memberikan gaji kepada karyawan secara adil, pantas dan tepat waktu. Sabda beliau “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering (tepat waktu), dan berikan ketentuan gajinya, terhadap apa yang ia kerjakan” Maka dari itu, pembayaran gaji haruslah tepat waktu, adil dan mencukupi.
  • Reliance on self. Salah satu fungsi penting dalam bekerja adalah kepercayaan diri dan mengandalkan diri sendiri. Sabda nabi Muhammad ﷺ, “Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri”.
  • Monopoli, dalam islam dianggap sebagai kesalahan besar yang dapat menghasilkan kerugian, laba yang tidak sah, dan menimbulkan ketidaksetaraan. Sehingga nabi Muhammad ﷺ melarangnya dengan hadits yaitu, “Barang siapa menimbun maka dia telah berbuat dosa”.
  • Seperti monopoli dan penipuan, suap-menyuap sangat dikecam dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Kutukan Allah menimpa atas orang yang menyuap dan yang menerima suap.”
  • Deeds and intention. Hal ini merupakan salah satu dasar yang signifikan dalam etika kerja Islam. Sangat jelas dibedakan etika kerja Islam dengan etika kerja dari kepercayaan lain. Asumsi fundamental dalam islam adalah bahwa niat adalah kriteria di mana pekerjaan dievaluasi dari segi manfaat bagi masyarakat daripada hasil. Setiap kegiatan yang dianggap merugikan, meskipun menghasilkan kekayaan yang signifikan bagi mereka yang melakukan hal itu, dianggap melanggar hukum. Hadits mengenai hal ini yaitu, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian (niat) dan perbuatan-perbuatan kalian”.
  • Bisnis dan pekerjaan secara umum harus bertumpu pada dasar etis dan moral. Prasyarat untuk menyebarkan dan mewujudkan tujuan ini adalah transparansi. Seperti perusahaan yang harus memberitahukan pada konsumen keadaan yang sebenarnya tentang produknya. Sabda beliau, “Orang-orang yang menyatakan hal-hal dengan jujur, tidak akan menyebabkan kerugian bagi orang lain”, menggarisbawahi pentingnya transparansi pada setiap transaksi bisnis, dan perlunya meningkatkan kepercayaan konsumen dan mengurangi problem di pasar.
  • Dalam Islam, ketamakan/keserakahan dianggap sebagai ancaman bagi keadilan sosial dan ekonomi. Nabi Muhammad ﷺ sendiri berusaha untuk melawan kaum elit Mekkah secara konsisten dan tidak kenal lelah mengkritik keserakahan mereka. Beliau bersabda, “Berhati-hatilah terhadap keserakahan, hal itu adalah kemiskinan yang sesungguhnya.”
  • Sikap dermawan adalah kebaikan dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa “Tidak ada yang lebih buruk daripada ketamakan”. Sabda beliau, “Hamba yang dermawan adalah yang kedudukannya paling dekat dengan Allah, surga dan orang-orang serta jauh dari neraka.”

Beberapa perbincangan terjadi seputar apa dimensi dari etika kerja Islami, bahkan menurut Chanzanagh dan Akhbarnejad, Ali tidak secara eksplisit menyebutkan apa dimensi dari etika kerja Islami.
Bersambung ke artikel berikutnya.

Adib R
=====================
References:
[1] Abbas J. Ali, “Scalling An Islamic Work Ethic”, The Journal of Social Phsychology, Vol. 128 No. 5 (October, 1988).
[2] Abbas J. Ali and Abdullah Al Owaihan, “Islamic Work Ethic: A Critical Review”, Cross Cultural Management: An International Journal, Vol. 15 No. 1 (February, 2008).

Advertisements

One thought on “Islamic Work Ethic (Bag.2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s