3 Karakter Diri Untuk Survive di era MEA

https://i0.wp.com/islamstory.com/sites/default/files/Sulaiman-Al-Rajhi-FORBES.jpg
Pict: Sulaiman Ar Rajhi, Miliarder Muslim Yang Melarat [sumber]

Organisasi pada perkembangannya dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sedemikian komplek. Harapan peningkatan produktivitas, masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA), derasnya arus informasi, cepatnya laju pengetahuan dan tingginya kompetisi antar perusahaan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi beberapa faktor eksternal yang mewarnai situasi dan kondisi organisasi khususnya di Indonesia. Tercatat dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), jumlah TKA yang masuk ke Indonesia dalam kurun waktu 2014 sebesar 68.762 pekerja.[1] Ditambah lagi, bahwa menurut Human Development Index (HDI) tahun 2014 yang diterbitkan oleh PBB, Indonesia menepati posisi 110, jauh di bawah Malaysia yaitu pada posisi 62 dan Singapore pada posisi 11.[2]

Sekelumit realita tersebut sedikit banyak membuat angkatan kerja menjadi merinding. Tapi tenang, ada beberapa solusi yang dapat kamu terapkan untuk mempersiapkan masa depan kamu di dunia kerja atau juga untuk kamu yang akan menjadi entrepreneur. Berikut beberapa karakter yang sebaiknya kamu miliki:

Read More »

Advertisements

Power, Dependence, Hutang, dan Al Wahn

“Total Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia kepada Negeri Tirai Bambu, China, tumbuh 59,61 persen selama setahun terakhir. Jika pada Januari 201 utang Indonesia ke China 8,55 miliar dollar AS, maka per Januari 2016 tumbuh menjadi 13,65 miliar dollar AS melejit 59 persen.” (Kompas.com)[1]

Stephen B Robbins menyatakan, “The most important aspect of power is that it is a function of dependence”.[2] Tepat, ketergantungan (dependence) adalah kunci keberhasilan untuk mendapatkan kekuasaan (power). Dalam contoh sederhana dapat kita jumpai misalnya pada perusahaan yang memproduksi mie instan. Untuk suplai plastik kemasan, perusahaan tersebut hanya memiliki satu supplier. Sehingga jika supplier menaikkan cost ataupun menurunkan kualitas perusahaan mie instan tersebut akan mengikuti rule dari supplier karena perusahaan mie telah ketergantungan dengan sumber daya yang dimiliki supplier: plastik.Read More »