Power, Dependence, Hutang, dan Al Wahn

“Total Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia kepada Negeri Tirai Bambu, China, tumbuh 59,61 persen selama setahun terakhir. Jika pada Januari 201 utang Indonesia ke China 8,55 miliar dollar AS, maka per Januari 2016 tumbuh menjadi 13,65 miliar dollar AS melejit 59 persen.” (Kompas.com)[1]

Stephen B Robbins menyatakan, “The most important aspect of power is that it is a function of dependence”.[2] Tepat, ketergantungan (dependence) adalah kunci keberhasilan untuk mendapatkan kekuasaan (power). Dalam contoh sederhana dapat kita jumpai misalnya pada perusahaan yang memproduksi mie instan. Untuk suplai plastik kemasan, perusahaan tersebut hanya memiliki satu supplier. Sehingga jika supplier menaikkan cost ataupun menurunkan kualitas perusahaan mie instan tersebut akan mengikuti rule dari supplier karena perusahaan mie telah ketergantungan dengan sumber daya yang dimiliki supplier: plastik.

Di lain sisi, hutang termasuk dalam salah satu cabang dari macam-macam ketergantungan. Ichsanudin Noorsy pernah mengatakan dalam seminarnya di UMY yang kurang lebih isinya demikian, “Kira-kira orang punya hutang, harga dirinya berkurang nggak? Lebih manut-manut nunduk-nunduk sama pemberi hutang nggak? Gimana kalau Negara yang punya hutang sama Negara lain? Tinggal seberapa kedaulatannya?Lalu kita lihat Indonesia punya hutang dengan siapa? Amerika? China?”

Jika kita perhatikan secara seksama, kenapa Indonesia bisa memiliki banyak hutang dengan banyak negara luar? Apakah APBN yang dianggarkan adalah benar-benar anggaran yang perlu dan urgent untuk dibelanjakan dan harus dibelanjakan? Atau jangan-jangan itu adalah anggaran semu yang dibangun diatas keserakahan dan pemenuhan keinginan atas jutaan perut dan yang dibawahnya? Berapa banyak acara mubadzir yang dianggarkan negara dalam setahun? Atau berapa banyak anggaran yang dihabiskan untuk memperbaiki dan mengobati akibat pembiaran atas budaya rokok misalnya? Benar bahwa pendapatan negara dari sektor cukai rokok besar yakni Rp.103 Triliun (Data Tahun 2013), namun biaya pengobatan dan kerugian yang diakibatkan oleh rokok jauh lebih besar daripada cukai negara yakni Rp.378,7 Triliun.[3]

Dapatkah kita menyalahkan pemerintah atas hal ini? Terlebih pemerintah Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Pasifik yang tidak menandatangani FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Jawabannya tunggu dulu, mari perhatikan lingkungan sekitar yang konsumsi rokoknya tinggi, merokok telah menjadi budaya yang merata bahkan di keluarga yang pendapatannya rendah. Lebih mengejutkan lagi, budaya ini telah dimulai pada usia 5-7 tahun atau lebih dikenal dengan istilah Baby Smoker. Bukan hanya rokok saja yang menjadi pangkal kerugian ekonomi yang menyebabkan negara harus berhutang. Sebutlah pesta demokrasi atau lebih dikenal dengan pemilu yang menghabiskan sekian miliar rupiah tiap 5 tahunnya. Masih ada lagi acara-acara perayaan yang sebenarnya tidak penting, namun disebabkan kondisi budaya masyarakatnya yang mengidap penyakit kejiwaan Al Wahn (Cinta dunia dan takut mati) akhirnya acara tersebut makin marak digelar dan dilestarikan. Padahal Al Wahn ini adalah sumber kelemahan umat Islam,

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.”(HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani).

Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk dengan presentase Muslim terbesar di dunia, jika Muslim Indonesia kuat maka stabilitas umat Muslim sedunia akan kuat, namun sebaliknya jika Muslim Indonesia lemah maka stabilitas umat Muslim sedunia akan lemah pula.

Pada akhirnya, cinta dunia ini menjadi pangkal dari pemborosan atas anggaran belanja negara yang ada. Benar bisa jadi ini adalah salah pemerintah, namun ingat bahwa pemerintah adalah cerminan rakyat. Jika ingin hutang negara berkurang, maka masyarakat harus mulai melakukan pengecekan dan pencegahan dini atas penyakit berbahaya ini, dan bagi yang telah terjangkit, janganlah menulari orang lain, ikhlaskanlah pribadi untuk diberikan stempel pesakitan lalu ikhlaskan lagi untuk diobati.

Adib Rofiqi
—————–
References:
[1] Aprillia Ika, “Utang Indonesia ke China Semakin Melejit, Per Januari Sudah Naik 59 Persen”, Kompas.com, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/03/21/063000126/ Utang.Indonesia.ke.China.Semakin.Melejit.Per.Januari.Sudah.Naik.59.Persen

[2] Stephen P. Robbins and Timothy A. Judge, Organizational Behavior 15th edition, (New Jersey: Pearson Preantice Hall, 2012)

[3] M Zaid Wahyudi, “Kerugianakibat Rokok 3,7 Kali Lebih Besar Dibanding Cukai yang Diperoleh Negara”, Kompas.com, http://print.kompas.com/baca/2015/12/17/Kerugian-akibat-Rokok-3%2c7-Kali-Lebih-Besar-Dibandi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s