Sangarnya Ulama dihadapan Umaro

Alkisah, Muhammad bin Sulaiman (umaro) menulis surat ke Hammad bin Salamah (ulama),  keduanya hidup di abad 4 hijriyah. Lalu surat tersebut dititipkan ke orang kepercayaan beliau untuk disampaikan ke sang ulama.

Sampailah utusan sang umaro ke rumah sang ulama. Kemudian Hammad bin Salamah menyuruh budak perempuannya yg masih kecil untuk menengok,

‘Nduk kono dipirsani sopo le neng ngarep lawang’

‘Njih Pak Yai’ Jawabnya

Genduk ini kemudian melihat ke pintu dan kemudian menyampaikan ke Pak Kyai-nya

‘Meniko tangan kanan e Kanjeng Prabu, Yai’ kata Genduk

‘Persilahkan masuk, tapi hanya sendiri’ Perintah Hammad bin Salamah.

Kemudian si utusan masuk dan menyampaikan surat yang kurang lebih isinya ucapan salam dan permintaan sang umaro agar ulama sowan ke istana karena akan ada beberapa hal ditanyakan terkait permasalahannya.

Kemudian dijawablah surat itu seketika oleh sang ulama yg dituliskan oleh utusan umaro tadi di halaman sebalik dari surat tersebut (ini tidak sopan, sehingga bermakna teguran keras untuk sang umaro).

Kurang lebih isi surat balasannya ialah ucapan salam yg semisal dan kemudian jawaban sang ulama yaitu ‘Aku tidak menjumpai dalam tradisi Islam bahwa ulama sowan ke umaro, maka datanglah kemari dan tanyakanlah permasalahanmu sepuasmu. Ning rasah tok gowo kae paspampres-mu ro protokoler-protokolermu, teko-o dewe.’

Lalu kemudian surat dikembalikan ke umaro (Muhammad bin Sulaiman), dan singkat cerita sang umaro sowan ke rumah sang Kyai.

Masuk lalu mengatakan ‘Menawi kulo sowan dalem panjenengan, kulo kok ndredeg Kyai’

Sang umaro bertanya banyak masalah lalu diujung pertemuan beliau memberikan uang ke sang ulama.

Sang ulama menjawab ± ‘Jauhkan uang itu dariku, kembalikan uang yang kau ambil dengan dzolim dari hak-hak rakyat’

Kemudian sang umaro tetap merayu agar beliau mau menerima, ia mengatakan bahwa uang itu bukan dari kas negara, tapi warisan ayahnya. Namun Hammad bin Salamah tetap enggan.

——

Pesan moral:

-Betapa keren dan sangarnya kedudukan ulama dihadapan para umaro, sampe-sampe umaro yang disuruh sowan ke ulama, karena memang begitulah ilmu, ia didatangi bukan mendatangi. Sampe-sampe sang umaro ndredeg alias gemeteran kalo sowan ke ulama, saking mulianya kedudukan ulama saat itu. Bandingkan dengan keadaan kita, ulama dicaci sembarangan bahkan oleh yang ngaku sebagai santrinya karena si santri membela orang kafir yg luck nut.

-Betapa berwibawa-nya rabbani, tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, tidak ada yang dicari melainkan ridho Allah, bebas dan merdeka berfatwa sesuai dengan ilmu yang dimiliki tanpa takut intervensi pemerintah atau bahkan berfatwa sesuai pesanan penjajah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni dosa-dosa ulama-ulama kita terdahulu termasuk ulama kita di Indonesia, walisongo, KH Hasyim, KH Ahmad Dahlan, Tuan Ahmad Hassan, Buya Hamka, dll. Merekalah ulama yang merdeka diatas Islam tanpa intervensi atau penjajahan politik.

-Indikator umat yang baik ialah: umaro yang amanah dan menghormati ulama, dan ulama yang lurus ikhlas memperbaiki umat. Bayangkan jika salah satunya cacat, ulamanya adalah ulama rabbani yang ikhlas namun pemerintahnya sekuler liberal dan mengacuhkan ulama. nas alullaha assalamah.

——-

Faidah Kajian #Aina #Nahnu #Min #Akhlakis #Salaf bersama Ust Aris Munandar hafidzahullah.
Meneladani akhlak generasi terdahulu

Ikutan kajian yok?
Catet ye tanggal mainnye: setiap Rabu ba’da maghrib – till isya’.
Masjid Al ‘Ashri Pogung Rejo.

Kagak bayar, gratis. Tau gue mah ente suka gratisan kan. Yang penting bawa buku u/ nyatet. Jangan nyatet pake HP. Gak kerennnnn soub. Classic is gold.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s