Gen Y: Generasi Kekinian

y-generation-foto-360-degreemarketing-com-auIlustrasi: Gen Y (sumber)

Prolog
Orangtua kita akan datang ke bank untuk ambil uang dan berbelanja di pasar atau mal. Pakdhe dan budhe lain lagi, beliau akan datang ke kantor zakat untuk menunaikan zakat mal, lainnya lain lagi akan ke kantor setiap hari untuk bekerja, lain lain lainnya berlangganan koran tiap paginya, sampai lupa bahwa ada Quran di lemarinya, bibi dengan rutin menyimak perhelatan akbar sinetron tiap malamnya.

Kurang lebih demikian aktivitas Baby Boomers dan Generasi X. Siapakah Baby Boomers dan Generasi X? Schofiled dan Honore berpendapat bahwa Baby Boomers ialah orang-orang yang lahir pada rentang waktu tahun 1946-1963, sedangkan Generasi X ialah orang-orang yang lahir pada rentang waktu tahun 1964-1981.[1] Generasi X dengan karaktersitik yang kolot, konvensional, runut, dan berbagai hal tradisional lain. Namun kita tidak akan membahas jauh Generasi X atau Gen X ini, kita akan sedikit mengulas generasi setelahnya, Generasi Y atau Gen Y. Read More »

Advertisements

Knowledge: Senjata Masa Kini

Pengetahuan menjadi aset berharga dan sumber daya pasti[1] bagi organisasi untuk dapat berkembang pada era kebebasan informasi ini, sedangkan kinerja maksimal menjadi salah satu kunci utama keberlangsungan organisasi. Pengetahuan adalah salah satu aset tak berwujud (intangible assets) yang tidak bisa lagi dianggap remeh, bahkan menurut Francis Bacon’s, pengetahuan menjadi kekuatan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pergeseran orientasi para pelaku bisnis telah terjadi. Pada tahun 1929 rasio penggunaan intangible assets dengan tangible assets berkisar antara 30:70 %, tetapi pada tahun 1990 menjadi 63:37 %. Penelitian lain mengungkapkan pada tahun 1978 nilai dari aset perusahaan masih bersifat fisik sebesar 80%, dan hanya 20% yang terkait dengan aset pengetahuan, pada tahun 1998 titik berat perusahaan pada aset pengetahuan yakni 70% dan 30% adalah aset berbentuk fisik.[2]
Read More »

Ibadahmu Islam, Muamalahmu sekuler?

​Maraknya  PHK, tidak stabilnya harga kebutuhan primer, bahkan hingga melemahnya nilai tukar rupiah adalah beberapa contoh dampak dari kurangnya pendidikan Islam pada pemeluknya, hingga akhirnya ke-latah-an atau ke-awam-an ini terbawa hingga ke kalangan pemangku amanah ummat.
Selama ini jika kita perhatikan secara seksama, kualitas keIslaman para pemangku jabatan ini tidak jauh beda dengan kualitas anak usia sekolah dasar, stagnan pada hal-hal fundamental dan kurang membuka khazanah pada tingkatan ilmu agama yang lebih tinggi dan tentu dibutuhkan pada waktunya.Read More »

Membedah 7 Klaim “Prestasi” Ahok Yang Sering Disebut Pendukungnya

(PENDAPAT.ID) Jakarta telah berada pada era “pencitraan” dimana terkadang persepsi terlalu jauh berbeda dengan realita yang ada. Di negeri yang menganut sistem pemilihan suara terbanyak, terkadang banyak opini yang dihembuskan untuk mengaburkan fakta yang sebenarnya. Inilah 7 klaim tentang Penguasa Jakarta yang dapat dikelompokan sebagai kisah yang berbeda antara persepsi dan realita yang ada.

1. Hanya di masa sang penguasalah, program “pengerukan” sungai benar-benar berjalan.
Faktanya, program “pengerukan” sungai merupakan bagian dari masterplan pengendalian banjir yang memang dijalankan sejak sebelum penguasa berkuasa. Lebih uniknya, program tersebut merupakan program Pemerintah Pusat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki 6 Proyek Penanganan Banjir Jakarta yang sudah & akan dikerjakan oleh Kementerian PU selama 2011-2016, meliputi Normalisasi Kali Pesanggrahan, Kali Angke, dan Kali Sunter (2011-2014), Penambahan pintu air Manggarai dan pintu air Karet serta optimalisasi Kanal Banjir Barat (KBB) (2012-2014), Normalisasi Kali Ciliwung lama (2012-2014), Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) atau Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP) (2013-2015), yang mengeruk & menormalisasi 13 sungai, Normalisasi Kali Ciliwung (2013-2016), dan Sodetan Kali Ciliwung-Kanal Banjir Timur (2013-2015)[1]

Mengatakan hanya di masa penguasa Jakarta saat ini, program “pengerukan” sungai benar-benar berjalan juga keliru mengingat Penguasa Jakarta sebelumnya (Fauzi Bowo), yang telah dicap gagal, juga telah melakukan beberapa kontribusi terkait penanganan banjir di Jakarta, seperti menyelesaikan Proyek Kanal Banjir Timur sepanjang 23.6 Km yang membebaskan 2,7 juta warga di 15.000 ha daerah rawan banjir dan juga melakukan normalisasi 10 sungai (Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) DKI Jakarta 2007-2012).Read More »