Knowledge: Senjata Masa Kini

Pengetahuan menjadi aset berharga dan sumber daya pasti[1] bagi organisasi untuk dapat berkembang pada era kebebasan informasi ini, sedangkan kinerja maksimal menjadi salah satu kunci utama keberlangsungan organisasi. Pengetahuan adalah salah satu aset tak berwujud (intangible assets) yang tidak bisa lagi dianggap remeh, bahkan menurut Francis Bacon’s, pengetahuan menjadi kekuatan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pergeseran orientasi para pelaku bisnis telah terjadi. Pada tahun 1929 rasio penggunaan intangible assets dengan tangible assets berkisar antara 30:70 %, tetapi pada tahun 1990 menjadi 63:37 %. Penelitian lain mengungkapkan pada tahun 1978 nilai dari aset perusahaan masih bersifat fisik sebesar 80%, dan hanya 20% yang terkait dengan aset pengetahuan, pada tahun 1998 titik berat perusahaan pada aset pengetahuan yakni 70% dan 30% adalah aset berbentuk fisik.[2]

Fakta tersebut tidak akan terjadi tanpa manajemen pengetahuan (knowledge management) yang baik. Paul L. Tobing menyatakan bahwa kunci sukses implementasi knowledge management adalah knowledge sharing behaviors (perilaku berbagi pengetahuan).[3] PT. Unilever yang merupakan salah satu pemenang MAKE (Most Admired Knowledge Enterprise) untuk tingkat nasional pada tahun 2006 terbukti sukses menggerakkan budaya learning dan sharing di kalangan karyawannya, perusahaan ini menyediakan media yang sangat variatif untuk menyuburkan budaya sharing dan learning di internal perusahaannya, baik yang bersifat online maupun yang bersifat tatap muka.[4]

Disadari atau tidak, pada akhirnya pengetahuan menjadi salah satu competitive advantage dan sebagai modal dasar continuous improvement sebuah organisasi. Masalahnya sekarang ialah, seberapa cepat dan tepat organisasi mau menyadari dan mulai untuk building the knowledge database. Belum lagi ternyata kini dunia bisnis mengalami pergeseran generasi, dari Baby Boomer/ Gen X menjadi Gen Y yang sebagian besar aktivitasnya sangat terkonsentrasi dengan dunia informasi yang mudah didapat melalui gadgetnya. Jadi, sudah seberapa besar intangible assets anda?

———–
Adib Rofiqi
———–
Reference:
[1] Sangkala, Knowledge Management, hlm. 3.
[2] Ibid., hlm. 37.
[3] Paul L. Tobing, Knowledge Management: Konsep, Arsitektur dan Implementasi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hlm. 137.
[4] Ibid., hlm. 149-150.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s