Wahhabi Dalam Pandangan Soekarno

Dialog Soekarno-A Hassan
Dialog Bung Karno – A. Hassan

Memperkuat literatur yang beredar di sosial media. Berikut saya tambahkan literatur sekunder (karena diambil dari sumber kedua dari tulisan pokok). Tulisan berikut adalah tulisan dari Ir. Soekarno di majalah Pandji Islam tahun 1940 nomor 12 dan 13. Kemudian oleh Ust M. Thalib dikutip dalam buku “pembaharuan faham Islam di Indonesia: Dialog Bung Karno – A. Hassan”. Berikut kami ketik kembali dengan edit seperlunya.


Sekarang tinggal kita meninjau tanah Arab. Hawa padang pasirlah yang kita temui di sini. Hawa padang pasir yang kering dan bersih, yang terang cuaca sampai ke puncak-puncak langit. Hawa yang murni dan asli, tetapi juga hawa yang . . . tidak kenal ampun! Yang membakar manusia dan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Yang tidak kenal akan angin-angin sejuk meniup dari udara-udara yang lain. Yang, menurut perkataannya Captain Armstrong yang lama berdiam disitu, adalah “kadang-kadang membuat orang menangis karena memperingatkannya kepada Asal, tetapi kadang-kadang pula membuat orang jadi gila karena kekejamannya”.

Di dalam udara padang pasir yang demikian inilah kita, -kecuali agama Islam mesum di bagian Hadramaut-, menjumpai satu aliran agama Islam yang sifat dan outlook-nya sebagai udara padang pasir pula: Murni, asli, angker, tak kenal ampun, dan tak menerima tiupan angin dari udara-udara lain. Di dalam udara ini kita menjumpai Wahabisme, yang sejak bagian kedua dari abad kedelapanbelas, tatkala ia dibangun oleh Imam Abdul Wahab di Hejaz, berkembang di sana-sini dan menjadi “bunga hantu” bagi banyak ulama-ulama Muslimin. Ya, -di sana-sini-, tidak di Hejaz saja berkembangnya Wahabisme itu. Tapi hampir selamanya padang pasirlah ia punya tempat-berpusat, hampir selamanya padang pasirlah ia punya “udara”.

Kalau kita kecualikan satu pusat kecil sebagai Bonjol di Sumatera Barat, yang nyata bukan padang pasir, dimana Tuanku Imam pada permulaan abad yang lalu mengembangkan Wahabisme dengan pergerakannya Paderi, maka tinggal padang-padang pasir sajalah yang musti kita sebutkan: Pertama di Hejaz sendiri, dimana ia dilahirkan. Kedua di padang pasir Gobir di Afrika, dimana benderanya berkibar dari tahun 1804 sampai tahun 1900. Ketiga di padang pasir Kufra, -atau Kufara-, di Afrika pula di mana ia di dalam tahun 1844 dikibarkan oleh Muhammmad El Sanusi. Dan keempat di Punjab di India Barat Utara, dimana ia di antara 1820 dan 1830 mendirikan satu pusat di Darul Harb, -satu negeri pula, yang sebagai Punjab pada umumnya, adalah setengah-setengah padang pasir.

Cobalah pembaca renungkan sebentar “padang pasir” dan “Wahabisme” itu. Kita mengetahui jasa Wahabisme yang terbesar: ia punya kemurnian, ia punya keaslian, -murni dan asli sebagai udara padang pasir. “Kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam sebagai di jamannya Muhammad!”

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahayul dan seribu satu bid’ah. Lemparkanlah jauh-jauh tahayul dan bid’ah itu, nyahkanlah segala barang sesuatu yang membawa kepada kemusyrikan! Murni dan asli sebagai hawa padang pasir, -begitulah Islam musti menjadi. Dan bukan murni dan asli saja!

==============
Adib R
==============
Reference:
-M. Thalib, “pembaharuan faham Islam di Indonesia: Dialog Bung Karno – A. Hassan”, (Yogyakarta: Sumber Ilmu, 1985), cetakan pertama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s