Kuantitatif atau Kualitatif

Bismillah

Di kampus saya UIN Sunan Kalijaga, khususnya di jurusan Manajemen Dakwah, ada persepsi kalau ingin cepat lulus maka skripsi menggunakan metode penelititan kuantitatif. Benarkah demikian?Metodologi penelitian (metopen) kualitatif ialah suatu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan dengan triangulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono, 2009: 15). Sedangkan metopen kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu.

Ada dua faktor yang menyebabkan penelitian dapat berjalan cepat. Faktor internal peneliti, dan faktor eksternal peneliti.

Faktor Internal:

  1. Pekerjaan dan Ekonomi. Mahasiswa yang juga memiliki pekerjaan sampingan, entah itu motivasinya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjadi tulang punggung keluarga atau bekerja hanya untuk memenuhi gaya hidup, maka kemungkinan mengerjakan penelitian dengan cepat relatif kecil. Mereka yang menjadi tulang punggung keluarga bisa ditolerir lah,tapi yang sekedar memenuhi gaya hidup? Well, kata orang jawa “Kudu prihatin sik..”. Mahasiswa dengan keadaan ekonomi pas-pas an tentu sedikit terhambat dalam penelitian. Eits namun jangan menyerah dengan keadaan, hal ini bisa diatasi jika kamu memiliki etos pantang menyerah, biasanya ada hibah dana penelitian dari LPPM bagi mahasiswa yang bisa memenuhi deadline.
  2. Kesehatan. Mahasiswa dengan intensitas sakit yang sering maka relatif lebih lama dalam mengerjakan skripsi. Untuk masalah ini, disinilah letak kecerdasan peneliti dalam memanajemen waktu dan tenaganya. Harus pandai memperkirakan kapasitas kesehatannya dengan seberapa besar lingkup penelitian yang diambil. Jika dalam sebulan bisa sakit selama 15 hari ya jangan mengambil penelitian dengan scoop populasi se-provinsi misalnya.
  3. Motivasi. Dari teori motivasi Abraham Maslow atau McGregor kita dapat mempelajari ada setidaknya dua tipe mahasiswa: mie instan dan mie goreng jowo.
    • Ada yang enggan menempuh jungkir baliknya mengerjakan skripsi, menyerah saat kesulitan tiba-tiba menghadang.
    • Ada yang dengan tekun dan ulet melewati jungkir balik salto depan belakang untuk jatuh dan berdiri lagi menghadapi kesulitan maupun omelan dosen pembimbing.

Faktor Eksternal

  1. Dosen Pembimbing. Problematika satu ini memang faktor x atau fluktuasi yang sulit diperkirakan. Ada setidaknya 3 macam dosen pembimbing skripsi: yang enak bimbingannya tapi hasilnya ambyar, yang susah bimbingannya tapi hasilnya bagus, dan yang mudah bimbingannya pun hasilnya bagus. Nah biasanya yang tipe ketiga ini sulit ditemukan, dapet dosen begituan? Bersyukurlah fellas, karena mudah dan tidaknya bimbingan jelas akan menentukan seberapa cepat lulus.
  2. Judul. Inilah faktor eksternal yang paling berpengaruh terhadap cepat atau lambatnya penelitian secara umum.
    • Judul penelitian yang sudah sering dikerjakan jelas lebih cepat dalam prosesnya, karena si peneliti hanya mengganti subyek penelitian, misalnya: Pada tahun 2015 si A telah melakukan penelitian dengan judul “Manajemen Pelayanan Pada Travel Umrah XYZ”. Kemudian pada tahun 2016 si B meng-copas judul penelitiannya dan hanya mengganti subyek nya “Manajemen Pelayanan Pada Travel Umrah ABC” (dengan catatan benar-benar diteliti), maka proses pengerjaan skripsi relatif lebih cepat, karena referensi sudah tersedia matang, gambaran penelitian sudah jelas.
    • Judul penelitian yang masih jarang dikerjakan atau diteliti maka relatif lebih lama dalam pengerjaannya, kenapa? Karena proses pencarian referensi memakan waktu, apalagi jika referensinya masih sangat sedikit atau dalam bahasa asing. Penelitian yang masih sedikit referensinya tentu lebih lama, namun memiliki nilai lebih yaitu pengayaan dan penguat keilmuan yang masih ada.
  3. Kualitas. Menurut Pak Andy Dermawan, kualitas skripsi/penelitian yang bagus sangat ditentukan dengan referensi atau dalil. Referensi yang sangat dianjurkan untuk dijadikan pegangan ialah jurnal, baik jurnal tersebut bertaraf nasional lebih-lebih jika bertaraf internasional, derajat kualitas buku menurut beliau dibawah kualitas jurnal, namun memang ada pengecualian untuk buku-buku yang tiap akhir babnya disertakan rujukan jurnal, seperti buku terbitan luar negeri seperti McGraw-Hill. Referensi ini menjadi yang memakan proses waktu dalam penelitian, apalagi jika ternyata jurnalnya hanya bisa dibaca dengan membayar.

Jadi, sebenarnya bukan melulu pada kualitatif dan kuantitatif yang menyebabkan cepatnya skripsi: jika faktor internal diabaikan dan hanya kita nilai dari poin JUDUL dan KUALITAS, maka jelas terlihat mana yang membuat pengerjaan skripsi menjadi lama atau cepat. Tinggal pilihan mahasiswa, akankah memilih JUDUL yang berKUALITAS atau tidak.

Adib R

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s