Dari Milenial ke Gen Y

Tulisan dari Mas Bestoro ini mewakili uneg-uneg saya (sohibul blog) dalam menyikapi berita-berita recehan yang tidak edukatif dan profit oriented sehingga melupakan esensi berita dan jurnalistik. Berikut saya kutip langsung tanpa perubahan.

Sebenarnya saya malas untuk mengangkat tulisan ini, meskipun draftnya sudah saya buat sejak beberapa hari lalu. Tetapi, setelah melihat postingan di MRCI, akhirnya terpancing juga.

Munculnya liputan tidak penting di salah satu portal berita di Sulawesi Selatan beberapa pekan belakangan, cukup membuat dahi saya berkerut. Bagaimana tidak, jika kabar seorang siswa sekolah negeri yg mudik atau dapat THR bisa masuk ke sebuah portal berita dan mendapat tempat sebagai rubrik khusus.

This is ridiculous!

Sebagian pihak yg pro dan permisif, mencoba memberikan ruang bahwa target pasar dari berita tersebut adalah generasi millenial. Hal-hal yg menjadi kesukaan para Gen Y.
Benarkah demikian?

Tidak juga! Saya sendiri adalah generasi millenial. Begitu pula ke-78 rekan Gen Y yg saya mintai pendapat dan kemudian juga bersikap kontra. Demikian juga yg saya amati dari komentator yg membully berita tersebut, sebagian didalamnya juga adalah mereka yg disebut generasi millenial.

Yg ada, argumen seperti itu justru “merendahkan” generasi millenial itu sendiri.

Lalu apa masalah sebenarnya? Kenapa liputan tidak penting seperti ini dimuat dalam portal berita?
Menurut saya, ada beberapa kemungkinan yg melatarbelakangi:

1. Create Controversy, Get Popularity
Saya teringat sebuah pepatah Arab : Kencingi sumur zam-zam, maka engkau akan terkenal.
Memunculkan sesuatu yg aneh (bukan unik) adalah salah satu cara cepat untuk mendulang traffic dan mendapatkan efek viral. Tidak aneh, mengingat portal berita ini sebelumnya cukup sering mencari traffic lewat clickbait dan split 1 artikel menjadi beberapa halaman.
Dan harus diakui, mereka sukses besar menciptakan kontroversi dan mendapatkan traffic. Kita sibuk berargumen, mereka mendapatkan uang dari iklan.

2. Losing the Identity
Yg saya rasakan, sepertinya portal berita ini sudah mulai kehilangan identitasnya.
Ketatnya persaingan yg ditambah munculnya pemain baru di niche yg sama, memaksa pemain existing yg mulai tenggelam untuk melakukan sesuatu yg bisa menarik perhatian.
Akan kreatif jika sesuatu itu adalah hal unik yg masih sejalan dgn Unique Selling Propositionnya. Namun jika sebaliknya, mengorbankan Unique Selling Proposition dan latah mengikuti pemain baru yg memang tidak mempunyai basic sebagai sebuah media, maka adalah sebuah kesalahan.

3. Lack of Creativity
Masih berkaitan dgn 2 poin sebelumnya, maka kemungkinan lainnya adalah kreativitas yg semakin berkurang. Dan dalam hal ini yg menjadi masalah adalah bagian yg mengurusi masalah konten.
Menjadikan liputan seorang siswi yg sedang liburan, habis dapat THR, dan hal biasa lainnya sebagai berita adalah sesuatu yg sangat tidak kreatif. Padahal dari situ masih banyak yg bisa digali lebih jauh. Misalnya, rute dan perjalanan, biaya yg dihabiskan, obyek wisata lokal, kekhasan daerah, dan lain-lain. Sehingga konteks dari liputannya lebih berbobot dan informatif.
Mengedukasi tidak harus dgn mencari sumber berita yg rumit. Hal-hal keseharian pun akan bisa memberikan inspirasi ketika kita sedikit mengeluarkan kreatifitas untuk melihat sudut pandang lainnya.
Jadi solusinya apa?

1. Kembali ke Khittah
Tidak bisa tidak, ini adalah jalan pertama yg harus ditempuh.
Sebagai sebuah portal berita yg juga merupakan bagian dari grup media besar nasional, maka kembali menjadi portal berita yg sejalan dgn visi dan misi serta menjalankan amanat UU untuk turut serta mencerdaskan bangsa adalah sebuah keharusan.
Salah satu upayanya adalah dgn meningkatkan skill pekerjanya, tidak hanya dari sisi jurnalistik tapi juga kreativitasnya.
Editor juga dituntut untuk lebih selektif dalam menyortir liputan yg masuk. Mana yg layak dikonsumsi publik serta target market dan mana yg tidak. Bukan sekedar memperhatikan faktor layak atau tidak layak tayang saja.
Jika mindset dan spirit ini sudah menjadi kultur, maka tentu akan menjadi kebaikan.
Jadikan visi dan misi sebagai driver kebijakan organisasi. Bukan malah menjadikan selera pasar sebagai nahkodanya.

2. Menginspirasi dan Mengedukasi
Remaja di Indonesia sangat butuh inspirasi dan edukasi. Terlebih di tengah kepungan budaya negatif dan banyaknya siaran hiburan yg merusak moral.
Saya percaya, remaja di Makassar tidak hanya mereka yg sekedar pulang kampung, pamer dapat THR, atau mungkin yg bisa buang air besar dengan berbagai gaya.
Tetapi saya sangat yakin, remaja di Makassar banyak yg berprestasi, kreatif, dan siap mengubah dunia. Beri ruang mereka.
Ada di antara mereka yg punya prestasi di akademik, juara di olahraga, pengusaha di usia muda, aktif berkontribusi di masyarakat, menciptakan teknologi baru, dan lain sebagainya.
Jadikan mereka ini sebagai role model bagi remaja-remaja lainnya.

3. Stop Making Stupid People Famous
Hal penting yg tidak bosan untuk diulang : Stop making stupid people famous.
Berhenti untuk ikut menyebarkan atau membagikan link berita-berita rendahan dan tidak bermutu. Sudah cukup timeline kita dipenuhi oleh hoax dan berita negatif. Jangan ditambah dengan berita sampah.
Semakin banyak kita share, meski dengan tujuan untuk mengkritik sekalipun, justru akan dianggap positif oleh mereka. Dipahami bahwa hal tersebut sebagai sesuatu yg diterima publik. Ingat idiom lama : Bad news is good news.
Sadar atau tidak sadar, terkenalnya orang-orang bodoh dan kontra-produktif diakibatkan oleh kita-kita juga yg sebenarnya tidak menyukai mereka.
So, mari bersama-sama kita ciptakan timeline yg sehat.
Semoga bermanfaat. [ASB]
#BreakingNews

——-

Disadur dari akun facebook Andita Sely Bestoro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s