Afeksi, Emosi & Suasana Hati

Seringkali entrepreneur dan karyawan mengalami degradasi kinerja disebabkan suasana hati yang tidak menentu, merasa aras-arasen (malas-Jawa) dalam beraktivitas ekonomi, atau di antara mereka ada yang tengah emosi lalu membuat keputusan. Apakah yang membedakan emosi & suasana hati? Apa pembentuknya?

Sebelum membahas emosi dan suasana hati maka seyogyanya dasar dari kedua hal tersebut dibahas terlebih dahulu, yaitu afeksi. Afeksi adalah istilah umum yang mencakup kisaran luas perasaan seseorang, termasuk di dalamnya ialah emosi dan suasana hati (Robbins, 2013:98)

Emosi adalah perasaan intens yang diarahkan pada seseorang atau sesuatu (Frijda dalam Robbins, 2013:98). Sedangkan Suasana hati atau yang biasa juga disebut mood adalah perasaan yang kurang intens dibandingkan emosi dan sering (meskipun tidak selalu) muncul tanpa sebuah peristiwa tertentu sebagai stimulus (Weiss dan Cropanzano dalam Robbins, 2013:98).

Perbedaan besar keduanya ialah,
Emosi:

  • Disebabkan oleh peristiwa spesifik
  • Sangat singkat durasinya (biasanya detik atau menit)
  • Spesifik dan banyak (banyak emosi spesifik seperti jijik, takut, sedih, marah, dll)
  • Biasanya diikuti dengan ekspresi wajah yang jelas
  • Berorientasi tindakan

Bagan afeksi

Mood:

  • Penyebabnya seringkali umum dan tidak jelas
  • Bertahan lebih lama dari emosi (jam atau hari)
  • Lebih umum (dua dimensi utama afeksi positif dan negatif)
  • Umumnya tidak diindikasikan oleh ekspresi yang jelas
  • Kognitif

Uniknya, pembentuk keduanya hampir sama yaitu:

  1. Kepribadian
  2. Waktu dalam hari. Beberapa orang merasa lebih bersemangat saat pagi hari, beberapa orang lain justru sebaliknya, bersemangat di malam hari. Namun setidaknya pola manusia memiliki keumuman yaitu afeksi positif mencapai puncaknya pada akhir pagi (sekitar pukul 10.00 s.d. siang hari), dan kemudian bertahan hingga awal malam (sekitar pukul 19.00) dan menurun setelah tengah malam.
  3. Hari dalam pekan. Seperti halnya waktu dalam hari, maka hari dalam pekan adalah bentuk luas dari suasana hati dan emosi, beberapa orang merasakan afeksi negatif rendah pada awal pekan (senin), beberapa kebudayaan justru merasa sangat bersemangat ketika awal pekan.
  4. Cuaca, percaya atau tidak. Beberapa orang sangat mudah terubah suasana hatinya disebabkan cuaca, hingga tak heran milenial sangat akrab dengan istilah mager (males gerak) yang disebabkan cuaca misalnya hujan, mendung atau suhu udara yang tinggi.
  5. Stres.
  6. Aktivitas sosial. Seseorang yang dalam afeksi positif akan cenderung mencari lingkungan untuk melakukan sosial, atau bersosialisasi juga menyebabkan munculnya afeksi positif.
  7. Tidur. Menurut riset, tidur yang buruk menyebabkan rusaknya kepuasaan kerja karena orang merasa lelah, terganggu, dan kurang waspada (Scott dan Judge dalam Robbins, 2013: 106)
  8. Olahraga. Riset secara konsisten menunjukkan bawa olahraga meningkatkan suasana hati positif orang (Giacobbi, Hausenblas, dan Frye dalam Robbins, 2013: 107).
  9. Umur. Studi menunjukkan pengalaman emosional membaik dengan umur, seiring penuaan, semakin lebih sedikit mengalama afeksi negatif.
  10. Jenis kelamin. Menurut studi, wanita lebih emosional daripada pria, namun memang terdapat perbedaan jenis emosi dalam konteks ini.

 

Penyusun
A. Rofiqi
_____________________________
Referensi:
Robbins, Stephen P and Timothy A. Judge, Organizational Behavior 15th ed, 2013, Pearson.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s