Sherlock, The Punisher & Mr. Robot

Kali ini gue akan mengangkat tema yang berbeda dari postingan lain di blog gue, tema film. Of course, yang gue bandingkan ini sejenis ya, sesama film series atau serial. Film ini sangat inspiratif makanya gue review. Sherlock, The Punisher dan Mr. Robot. First thing first, akan gue kutip film ini dari imdb.

Sherlock (2010)

Genre: Crime, Drama, Mistery
Created by: Mark Gatiss, Steven Moffat

Written by: Mark Gatiss, Steven Moffat, Stephen Thompson
Directed by: Paul McGuigan, Nick Hurran, etc
Based on: Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle
Country: UK
Starring: Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Mark Gatiss
IMDB Rating: 9.2

The Punisher (2017)

Genre: Action, Crime, Adventure
Created by: Steve Lighfoot

Written by: Ross Andru, Gerry Conway, etc
Directed by: Andy Goddard, Tom Shankland, etc
Based on: The Punisher by Gerry Conway, Ross Andru, etc
Country: US
Starring: John Bernthal, Ebon Moss
IMDB Rating: 8.8

Mr. Robot Season 1 (2015)

Genre: Crime, Drama, Thriller
Created by: Sam Esmail

Written by: Sam Esmail, etc
Directed by: Sam Esmail, Jim Mckay, etc
Based on: Mr. Robot by Sam Esmail
Country: US
Starring: Ramy Malek, Charly Chaikin, etc
IMDB Rating: 8.6

Sinopsis

Sherlock bercerita mengenai petualangan seorang detektif swasta (atau lebih tepat ia menyebut pekerjaannya sebagai detektif konsultan) Sherlock Holmes bersama partnernya, dr. John Watson. Banyak kasus pembunuhan dan kriminal yang dipecahkan oleh mereka berdua, beberapa kejahatan ternyata memiliki otak yang sama (criminal mastermind) yaitu Jim Moriarty sebagai musuh bebuyutan. Bahkan rencana kriminal Jim Moriarty tetap berjalan meskipun telah mati.

The Punisher bercerita mengenai seorang ex-militer bernama Frank Castle yang dikabarkan telah mati dan menjalani hidup baru. Frank memiliki masa lalu menyedihkan semasa di militer, diberikan misi konspirasi lalu hendak dihabisi oleh atasannya namun berhasil lolos tanpa diketahui sang atasan. Dalam serial ini Frank yang tengah hidup tenang kemudian diusik dan akhirnya menuntut balas dendam atas kematian istri dan anaknya.

Mr. Robot menceritakan tentang duel antara hacker bernama Elliot Alderson yang memiliki gangguan kejiwaan dengan sebuah perusahaan besar yang sangat mempengaruhi gaya hidup manusia yaitu Evil Corp. Tujuan utama Elliot adalah meruntuhkan kedigdayaan Evil Corp.

Review

Mr. Robot sangat menarik di sangat menarik di awal season (episode 1), dimana Elliot menunjukkan keahliannya meretas akun sosial media seseorang yang melakukan kejahatan seksual, Elliot mengintimidasi pelaku tersebut agar menghentikan perbuatannya dan jika tidak akan dibocorkan ke publik. Film ini tidak hanya mengeksploitasi ide mengenai dunia digital terutama urusan meretas keamanan web, namun lebih jauh juga mengeksplorasi mengenai psikologi, karena ternyata Elliot memiliki gangguan kejiwaan skizofrenia (kalau tidak salah ingat).

Di lain sisi, Elliot ternyata juga seorang pemakai drugs, dan segala pekerjaannya dalam meretas Evil Corp dilakukan dalam pengaruh drugs. Film ini menarik di awal dan beberapa episode akhir, konflik yang dibangun di tiap episode tidak terlalu menarik, sehingga terasa sangat membosankan menunggu klimaks alias konflik utama ini dimunculkan. Akan lebih terasa membosankan jika sebelumnya anda pernah menyaksikan Who Am I (2014) film besutan Jerman yang meskipun sinematografinya tidak terlalu bagus, tapi alur ceritanya sangat menarik. Boleh dikata, Mr. Robot ini semacam Who Am I yang diperpanjang meskipun ceritanya tidak terlalu mirip. Tapi bukan itu saja yang membuat film ini begitu menyebalkan, tiba-tiba ditengah episode terpampang dua laki-laki yang menampakkan wajah garang, guess what they do next? Ciuman di pinggir jalan, yuch it’s so disgusting. Kendati IMDB memberi rating 8.6, tapi saya pribadi hanya akan memberi nilai 6.5.

The Punisher. Frank Castle yang hidup membawa dendam hidup jauh dari masalah, hingga datang David Lieberman (peretas) yang mencoba mengancam Frank, na’asnya David justru lebih dahulu dikerjai oleh Frank dan akhirnya menjadi rekan. David Lieberman ini juga tokoh yang menjadi korban misi CIA, dikabarkan telah meninggal, sehingga ia menjadi semacam “hantu”, hidup namun tidak ada orang yang mengenali identitasnya, bahkan David merahasiakan keadaannya yang masih hidup dari istri dan anak-anaknya agar mereka aman.

Frank hidup dengan membawa dendam atas pembunuhan istri dan anaknya pasca percobaan pembunuhan atas dirinya. Hanya tiga orang yang mengetahui bahwa Frank masih hidup, yaitu Karen, Curtis & Lieberman. Setelah mendapat informasi pasti mengenai siapa pembunuh istri dan anaknya ia memulai perburuannya. Siapa lagi yang ia buru jika bukan atasan & rekannya semasa di militer?

Film ini tergolong baru, 2017, dengan aktor kawakan John Bernthal, tidak heran aktingnya begitu memukau dengan ekspresi khas penuh emosi dan dendam namun tetap strategis. Sinematografi film ini bagus, efek-efek yang dihasilkan patut diacungi jempol. Dari segi alur cerita lumayan menghibur dan menegangkan. Sayangnya untuk saya, film ini tergolong membosankan di awal sampai pertengahan, mulai menarik dari 4 episode akhir. Konflik yang ditawarkan di masing-masing episode kurang klimaks, upaya membangun atmosfer kengerian dendam Sang Punisher kurang begitu terasa dan terkesan lambat. Di akhir-akhir episode sangat banyak adegan kekerasan, dan inilah yang sebenarnya ditunggu-tunggu, terutama saat adegan penyiksaan. Rasa bosan selama 9 episode awal terbayar fair di akhir-akhir season. Jika IMDB memberi rating 8.8, maka rating pribadi dari saya adalah 8. Still good though.

Sherlock. Jika membayangkan sosok Sherlock Holmes, maka fantasi kita akan terbawa ke tahun 1800 an dimana latar asli detektif tersohor ini hidup. Tapi dengan garapan Mark Gatiss, film ini menawarkan suasana lain: Sherlock diceritakan dengan latar tahun 2010, namun alur cerita dan judul episode nya hampir mirip dengan novel karangan Sir Arthur Conan Doyle ini.

Film ini pada episode pertama season pertama akan terasa membosankan selama 5-10 menit, tapi setelah itu kesan ini akan hilang dan berubah 180 derajat. Sebanyak 13 episode dibangun konflik-konflik yang epic dan canggih, luar biasanya, konflik di 5 episode awal memiliki alur untuk menuju konflik pada episode ke 6 (episode 3 season 2), saling berkaitan. Meskipun berkaitan, bukan berarti di tiap episode konfliknya tidak diselesaikan, bahkan rampung dengan rapi dan tidak membosankan. Akting dingin, kasar dan logis dari Benedict Cumberbatch begitu memukau berduet dengan Martin Freeman. Aksi kejahatan dari Andrew Scott dan Lars Mikkelsen tampak sangat gahar, tak kalah horor dan romantis akting dari Sian Brooke yang menjadi saudari kandung dari Holmes bersaudara.

Film ini sangat inspiring, seolang mengajak penonton untuk ikut cerdas dan memperhatikan detail-detail kecil di sekitar lingkungan untuk kemudian ditarik deduksi dan menghasilkan konklusi. Selain itu film ini juga menginspirasi untuk aktif menulis di blog pribadi, apapun itu selama memberikan manfaat untuk khalayak.

Banyak hal yang menarik dipelajari dari series ini, mulai dari deduksi, mind palace, motif kejahatan, hubungan keluarga, pertemanan hingga sains. Halus dan emosionalnya dr.Watson menjadi penyempurna epic untuk logis dan kasarnya Sherlock. Kendati IMDB, memberi rating 9.2, saya pribadi memberi rating 9.8. More than that i expected. This is mind blowing movie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s