Cadar dan Anti SBY

Memanasnya situasi UIN belakangan ini mengenai pelarangan cadar -demikian secara singkat saya menyebutnya, meski secara tekstual pihak kampus tidak vulgar mengatakan-, ingatan saya kembali ke awal menjejakkan kaki di almamater ini. Ya, saya alumni 2017, angkatan 2013 jurusan Manajemen Dakwah. Melekat pada saya term ‘anak kampus timur’, entah timur jalan atau timur masjid.


Cadar, niqob atau burka menjadi stereotype‚Äč dari radikalisme di dunia internasional, di dalam negeri sendiri juga berlaku demikian (kini mulai memudar), ia menjadi simbol anti NKRI, anti Pancasila. Ditengah keadaan stereotype yang memudar itu, ada yang masih kolot melestarikannya. Menjadi hal yang sangat paradoks, jika ternyata yang melestarikannya adalah institusi pendidikan Islam milik negara, apalagi menjadi institusi yang mengkampanyekan Islam moderat. Kasus ini justru menjadi arang hitam diwajah Islam moderat yang dikampanyekan.

Namun sebenarnya ada yang hendak saya kritisi disini ialah, seperti apakah indikator radikal atau paham ekstrimis yang dipegang oleh UIN sehingga menjadikan cadar menjadi salah satu simbolnya. Mengapa saya kritisi? Dari kejadian yang saya alami sendiri di kampus ini, menjadikan saya bingung.

Semasa ospek, kami mendapat banyak materi yang tidak relevan dengan terminologi ‘ospek’ yang sesungguhnya yaitu pengenalan kampus. Ospek justru menjadi ajang gerakan radikal dan rekruitmen radikalis. Tak perlu gusar, mengapa saya katakan radikal? Saat itu yang menjadi presiden adalah SBY, ospek di hari-hari itu menjadi ajang belajar orasi senior-senior pergerakan untuk mencela, mengumpat dan meng-anjing-anjingkan SBY. Masih jelas teringat dalam benak saya, bagaimana mahasiswa-mahasiswa lusuh (celana jeans sobek, kaos oblong, rambut acak-acakan) dengan jelas mencela pemerintah. Mereka jika di hari ini berbuat demikian saya hampir yakin akan disebut sebagai pembuat makar, anti NKRI, anti Pancasila. Tapi anehnya kegiatan resmi kampus tersebut juga tidak mendapat teguran keras, atau menjadi bahan pertimbangan bagi kampus untuk melabeli mereka dengan bibit radikalis atau aliran sesat sehingga patut mendapat pembinaan.

Tahun-tahun setelahnya, bahkan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa sampai melakukan perusakan gedung kampus (milik negara) atau mereka yang unjuk rasa di pertigaan Jl. Laksda Adisutjito (Jl. Solo) sampai bentrok dengan warga, karena warga merasa terusik, mereka juga tidak mendapat labeling ‘radikalis’. Tidak sama sekali, berbeda dengan mahasiswi bercadar ini yang entah apa yang mereka lalukan sehingga dianggap meresahkan civitas UIN. Apakah mahasiswi bercadar ini melakukan aksi unjuk rasa dengan mengumpat Presiden? Apakah mahasiswi bercadar ini merusak fasilitas kampus? Apakah mahasiswi bercadar ini hendak menggulingkan pemerintahan?

Hanya karena berbeda pemahaman dalam beragama, lantas UIN yang mengkampanyekan Islam Moderat, Islam ramah & Islam rahmatan lil ‘alamin ini memberikan labeling ‘radikalis’ pada mahasiswi bercadar. Rektornya sendiri menjadi peserta “Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa” namun menjadi penyebab kerusuhan internal di dalam agamanya sendiri. Sungguh kejenakaan akademik yang lucu.

_______
Adib R
Alumni UIN SUKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s