Sebaik-baik Move On: Hijrah

Move on, sebuah kata yang begitu akrab di telinga kita, di layar gadget kita, juga dalam sarcasm kita sehari-hari. Seperti Keenan yang harus merelakan Raisa ditikung Hamish, atau seperti kamu yang berusaha lepas dari bayangan mantan. Move on dari apa? Mengapa move on? Bagaimana cara move on? Move on kemana?

Hijrah

Nggak, kita bukan akan membicarakan hal-hal menye maalah percintaan. Masalah asmara tanpa hubungan yang dilegalkan agama dan negara itu bullshit, men. Itu hanya kedok laki-laki cemen yang nggak berani nikah tapi pingin nyicip cinta semu berbalut kisah indah. Jauh ke dalam sanubari dan melesat ke depan, move on sebagai bentuk hijrah. Hijrah dari apa, kenapa hijrah, bagaimana hijrah, hijrah kemana soub. Hijrah adalah bentuk dari move on yang baik, karena ada juga move on yang nggak baik, misalnya move on dari pacaran ke mabuk-mabukan, tawuran, parahnya: ke hal-hal kesyirikan, sampai ada istilah “cinta ditolak dukun bertindak”, aje gile serem dah.

Hijrah bermakna berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah ﷻ. Move on dari segala kemaksiatan baik yang besar maupun sepele ke arah yang lebih baik, yaitu ketaatan pada Allah ﷻ, singkatnya ya sebaik-baik move on adalah move on kepada Allah ﷻ.

Kenapa sih harus move on?
Tau nggak sob, surga diciptakan untuk orang-orang yang semasa di dunia ia yang beriman dan beramal shalih. Sekarang pertanyannya, sudahkah kita menjadi orang yang beriman dan beramal shalih? Tau nggak kalau kita masuk surga itu karena rahmat dari Allah ﷻ? Bukan karena murni amalan shalih kita? Tapi gimana mau dirahmati Allah ﷻ kalau kita beramal shalih aja enggak? Malah justru beramal talih, emang pacaran amal shalih? Emangnya bekerja di bank yang penuh riba itu amal shalih? Emang ngerokok itu amal shalih? Enggak kan?

So, Gimana cara move on ke Allah ﷻ?
Dua cara yang mesti ditempuh, move on luar dalam

Move on luar. Dengan merubah penampilan atau perbuatan dzohir, misalkan yang sister/ukti/cewek mulai berbenah diri memakai pakaian yang nyunnah, mulai dah tu pake jilbab dan gamis yang longgar, tinggalkan celana jeans dan celana ketat yang nampakin lekuk badan, syukur-syukur pake niqab, bantu kaum lelaki menundukkan pandangan, kurangi dah itu upload foto-foto selfi ke sosmed, selfinya disimpen sendiri aja, terus jangan lupa putusin pacarnya (mending ajak nikah, kalau nggak mau ya harus putus).

Yang brother/ikhwan/cowok mulai berbenah diri naikkan celana di atas mata kaki, potong kumis, pelihara jenggot, berhenti merokok, keluar dari kerjaan riba (emangnya mau anak istri makan dari hasil haram?), sholat ke masjid, putusin pacarnya (inget, perempuan solehah itu nggak mungkin pacaran), dan seterusnya. Itu hal-hal dzohir yang insyaAllah kalau azzamnya kuat mudah dilakukan, dan bisa instan.

Move on dalam. Move on dengan merubah hal-hal yang tidak tampak dzohir, misalnya dengan kembali mendalami tauhid karena tauhid lah sebaik-baik kunci, memperbaiki bacaan Al Qur’an, memperbaiki kualitas sholat, melatih ikhlas dan ridho, melatih tawakkal pada Allah ﷻ, memperbaiki adab dan akhlak sehari-hari, mudah memaafkan dan seterusnya. Move on dalam ini biasanya butuh waktu yang lama, ada proses di dalamnya, tidak bisa instan, harus berjihad (bersungguh-sungguh) dalam move on, berusaha istiqomah di atasnya.

Tapi ingat soub, semua yang mengaku beriman itu akan diuji, termasuk yang mendeklarasikan “Gue sudah hijrah nih, soub” juga akan diuji, apakah ia tulus/benar dalam niatnya, atau ia akan kembali maksiat lagi.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]

Jangan heran, kadang lihat temen kita udah hijrah tapi masih maksiat lagi, ya karena tadi itu, dia sedang diuji, apakah bener apakah ikhlas dalam hijrahnya. Yang patut kita camkan adalah, berikan udzur sembari terus menasehati temen kita yang sedang dalam proses hijrah, berikan udzur atau pemakluman. Sedangkan untuk diri sendiri, maka kita harus keras, jangan kasih kendor dah. Pas liat temen ngrokok, kok pingin, segera ta’awudz, itu gangguan syaitan, terus pergi dari orang yang ngerokok, biar pinginnya hilang. Pas tergiur barang cicilan murah tapi riba, segera ta’awudz, bilang ke diri sendiri “Itu haroooom…!”. Pas mau pake pakaian ketat menampilkan lekuk tubuh, cepetan dah ta’awudz, istighfar, segera kasih dah itu pakaian ketat ke anak kecil, kan jadi longgar kalo dipake anak kecil.

Akan banyak rintangan dan gangguan saat kita berniat move on, ada saja pingin kita gagal. Sama kayak kita mau move on dari mantan, ada aja yang ngalangin, entah karena kenangannya, atau karena barang-barangnya dia ada di kita, atau karena masih ketemu tiap hari, atau parahnya karena masih punya utang pas nraktir #duhdik. Intinya, saat kita hijrah jangan pernah andalkan diri sendiri, selalu sandarkan semua ke Allah ﷻ, minta tolong sama Allah ﷻ biar dikasih kekokohan hati.

 

Yang Fakir
Adib R

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s