Benang Merah Nomoni Itu Samar-samar,

“Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman, di mana saja ia menemukannya, maka ambillah” (HR. Tirmidzi)

Demikian yang dituturkan Nabi ﷺ, hal yang menyenangkan maupun membuat hati susah, di dalamnya pastilah ada hikmah, bahkan termasuk bencana. Hikmah bagi korban bencana yang masih hidup, maupun yang hidup di lain tempat aman dari bencana. Palu dan Donggala, seolah menjadi sebuah mata kuliah yang mau tak mau harus diambil.

Akal dan nalar epidermis menangkap sebab akibat: gedung hancur karena gempa, gempa disebabkan pergeseran lempeng bumi, dan seterusnya. Benar dan masuk akal, namun kering dari nilai hikmah. Padahal pastilah ada kekuatan yang berkuasa atas lempengan bumi tersebut dapat bergerak: Allah Al Aziz.

Tidaklah bencana ditimpakan kecuali dengan beberapa alasan: menjadi ujian bagi orang beriman, atau adzab bagi yang berdosa. Palu Nomoni dengan Baliya dan benang-benang merahnya. Bagi warga masyarakat yang masih hidup dan saya pribadi, bencana ini samar-samar pasti. Samar-samar karena alasan pasti diturunkannya bencana ini tidak dapat dimutlakan pada ritual baliya, hal ghaib hanyalah Allah ﷻ yang mengetahui. Pasti, karena datangnya bencana disebabkan tangan-tangan manusia itu sendiri, tersebab pada dosa-dosanya.

Beberapa narasumber (warga masyarakat dan da’i) menjadi rujukan saya menulis ini, bukan saya menghakimi warga masyarakat Palu dan Donggala, namun atas kesadaran sendiri masyarakat mengakui bahwa bencana itu adalah tersebab dosa kesyirikan. Sekali lagi, masyarakat menyadari bahwa bencana ini adalah karena kesyirikan, banyak sumber primer dan sekunder (digital) yang mendukung statement ini.

Namun menjadi hal yang patut direnungi bersama, bahwa desa yang hilang dalam bencana gempa dan tsunami di Palu Donggala ternyata menyimpan noktah hitamnya. Ketika ditanyakan ke warga sekitar mengenai demografi masyarakat di desa yang hilang itu, maka jawabannya ialah bahwa desa yang hilang tersebut menjadi berbagai pusat dan rahasia umum: penghasil dukun, sarang peredaran narkoba, sarang rentenir, dan tempat lokalisasi dimana penjaja maupun pembelinya bahkan anak usia dini. Namun ada yang lebih menyesakkan dari itu, kesemua desa tersebut ikut andil dalam acara Palu Nomoni, ritual baliya yang penuh kesyirikan.

Satu desa mengirimkan delegasi menjadi penari, desa yang lainnya tidak mau kalah dengan mengirim pemain seruling dan lain-lain. Saling berbangga dan berlomba dalam kesyirikan. Benar-benar suatu fakta yang membuat mual dan menjijikkan bagi siapa saja yang tauhid telah tertancap di hatinya.

Benar bahwa kita tidak boleh memastikan langsung bahwa ritual baliya tersebut menjadi sebab pasti datangnya bencana, karena itu hal ghaib. Namun setidaknya bagi yang berakal dan beriman, tanda-tanda itu jelas, sejelas matahari sore tenggelam ditelan malam. Saya yakin siapapun yang melihat langsung bekas desa yang hilang itu akan dapat membaca langsung peringatan keras ini. Jelas bagi mereka yang dalam hatinya ada iman meski sekecil biji sawi.

Lalu setelah benang-benang merah itu samar jelas, akankah tetap dilangsungkan acara biadab, menjijikkan dan bodoh berupa ritual-ritual kesyirikan yang dibalut budaya? Wahai masyarakat Jogja, Cilacap dan lainnya, apakah Palu tidak cukup menjadi pelajaran untuk kita? Apakah harta mahal berupa hikmah ini kita tidak pedulikan?

Adib Rofiqi
Relawan URC Peduli Muslim
Pemuda Masjid Al ‘Ashri
____
13 Oktober 2018
Palu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s