Yang Palu Biarkanlah Berlalu (Palu Hari Ini 2)

Dua narasi sudah saya hadirkan mengenai kisah pilu bencana gempa dan tsunami di Donggala dan Palu. Apa-apa yang saya tulis itu semoga dapat menjadi ibroh (pelajaran) bagi sesiapa saja yang hendak merenung dan mengoreksi, terlebih pada diri sendiri. Seringkali kita menulis sesuatu namun lebih menekankan tertuju pada orang lain, padahal diri sendiri pun patut ditunjuk dan dikoreksi atas kesalahan yang terjadi.
Narasi yang telah lalu bernuansakan realita pilu mengenai Palu. Sajaknya kali ini akan bernuansa harapan dan asa. Tidaklah kita berharap kecuali pada Allah ﷻ semata.

7. Kemarin (15 Oktober 2018) di posko sedang banyak orang, dan kebetulan list belanja cukup banyak. Saya pergi keluar menggunakan mobil untuk belanja (tentunya, untuk ukuran orang Jawa, Palu sangat panas). Ada pemandangan yang mengingatkan saya 10 tahun silam: sekolah. Ya, aktifitas belajar mengajar di jenjang menengah sudah tampak aktif, meskipun mungkin belum efektif. Setidaknya, dengan bersuanya mereka dengan teman-teman sekolahnya menjadi pengobat luka mendalam akibat gempa dan tsunami. Adapun di pedesaan, saya belum menjumpai, entah karena jam saya di lapangan minim, atau memang belum ada. In this case, saya butuh banyak masukan info.
8. Listrik, air dan sinyal seluler sudah hampir stabil. Saya jadi ingat awal saya datang ke Palu ini, 3 hari setelah gempa, yaitu hari senin (1 Oktober 2018). Saat itu, yang paling membuat kami kesulitan koordinasi (karena ada 3 tim berbeda jalur pemberangkatan) adalah sinyal seluler yang minim, dikabarkan lebih dari 500 tower bts di Palu tidak berfungsi. Listrik mati total selama 3 hari lebih, dan hanya mengandalkan genset untuk pemakaian pribadi. Demikian pula dengan air, karena masyarakat banyak menggunakan sumur dengan pompa penyedot, ketika listrik mati otomatis supply air sulit, atau ada dan banyak sumur yang rubuh. BBM berupa premium yang digunakan untuk genset pun sulit di dapat, bahkan untuk menjarah pun harus antre (saya lihat sendiri). Dengan keadaan sedemikian pelik, masjid benar-benar menjadi pusat mobilitas masyarakat: mendapat air, listrik dan tentunya sinyal. Kami saat itu pun harus menginap di masjid dan tidak mandi untuk beberapa hari sampai kami mendapatkan posko. Saking sulitnya air, jika kami dijamu air mineral 1 gelas pun rasanya seperti mendapat es. Lalu mendapatkan nikmat di posko ini, atau nanti jika telah sampai di rumah, pelajaran ini memang layak dikenang.
9. Ada yang tetap bebal bermaksiat, pun banyak yang berbenah diri. Beberapa hari setelah gempa, penjarahan non kebutuhan primer merajalela. Ada pula yang tetap enjoy judi dengan kartu remi meneruskan tabiatnya. Namun banyak pula yang kemudian kembali sholat, giat sholat, merubah kebiasaan buruk, dan menyadari pentingnya tauhid. Bahkan bencana di Palu ini unik, masyarakatnya langsung sadar bahwa bencana tersebut datang karena kesyirikan dan maksiat terang-terangan. Mereka tidak kemudian “apa salah saya ya Allah?”, tidak. Mereka sadar. Ah kiranya dakwah tauhid ini mau ada yang mengemban sampai di pelosok-pelosok desa, terus mentarbiyah masyarakat sampai benar-benar tauhid menancap kuat di hati. Kiranya harapan saya ini tidak muluk-muluk, terbukti hari ini dilangsungkan tabligh akbar bernuansakan tauhid begitu antusias diikuti masyarakat, juga didukung oleh pemerintah desa dan aparat polisi. Tidak ada yang lebih menggembirakan daripada mengetahui bahwa nilai tauhid tersebar luas dan dalam di masyarakat. Yang Palu biarkanlah berlalu, saat ini dan seterusnya Palu Bertauhid semboyan kita.
Selesai.
Adib Rofiqi
Relawan URC Peduli Muslim
___
16 Oktober 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s