Penggalangan Dana Korban Bencana: Air Mata dan Optimis

Bencana sering kali terjadi di Indonesia. Setidaknya bencana terbagi menjadi dua macam, bencana alam dan bencana karena human error. Tercatat dalam tahun 2018 setidaknya ada 4 bencana besar yang menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Gempa Lombok, gempa dan tsunami Palu, kecelakaan pesawat Lion Air JT610 di lepas laut utara Karawang, dan Tsunami di Selat Sunda. Semua berita bencana tersebut dapat kita dapatkan dengan waktu yang relatif singkat, melalui pesan berantai di media sosial, atau dari kanal berita online. Cepatnya arus informasi ini pula yang mendukung kinerja instansi pemerintah dan organisasi non pemerintah untuk dapat melakukan aktivitas tanggap bencana.

Pemerintah melalui kementerian dan instansi terkait dapat segera melakukan giat atau aktivitas tanggap bencana, seperti: mitigasi, kesiapsiagaan, respon dan pemulihan. Tentu pemerintah adalah pihak yang diharapkan paling cepat penanganannnya terhadap bencana, karena sudah tersedia anggaran untuk penanggulangan bencana. Secara sederhana yang dapat langsung dirasakan oleh korban bencana ialah aktivitas search and rescue, dan penyaluran logistik. Lalu bagaimana dengan NGO (non goverment organization)? Melalui informasi bencana yang didapat, secara umum NGO akan melakukan assessment terhadap bencana seperti: apakah benar terjadi bencana, seberapa besar dampak bencana, apa saja yang perlu dipersiapkan dalam upaya penanganan bencana. NGO dengan prinsip mandiri tentu akan menggalang dana untuk program tanggap bencana yang akan dijalankan.

Penggalangan dana oleh NGO di era milenial ini menjadi hal yang menarik diamati dan direnungkan secara seksama. Beberapa NGO baik resmi maupun tidak resmi terkesan terlalu mengeksploitasi korban bencana dengan menampakkan keseluruhan foto korban yang tercabik-cabik misalnya. Dengan dalih pengumpulan dana, foto-foto korban yang berdarah-darah dipajang dan diviralkan di media sosial. Dari sudut pandang jurnalistik, model seperti ini disebut jurnalistik air mata, berbeda dengan jurnalistik optimis yang membangun dan mempertimbangkan kemanusiaan korban. Apa saja sebenarnya yang menjadi pembeda? Dapat ditunjukkan di tabel berikut.

Screen Shot 2019-02-14 at 11.25.31 AM

Lalu mungkin akan muncul tanya, “bukankah ini untuk tujuan yang baik, agar orang-orang di luar daerah bencana ikut berempati dan mengeluarkan uangnya untuk donasi? Apanya yang salah?”. Salahnya adalah, persuasi untuk empati justru dilakukan dengan mengesampingkan kemanusiaan dan privasi. Coba kita buat simulasi di dalam fikiran, suatu saat keadaan korban bencana sudah membaik, lalu kita (diumpakan dalam simulasi ini sebagai korban, atau kerabat korban) melihat foto-foto kita masih tersimpan di server, masih bisa diakses publik, belum lagi jika ternyata foto tersebut sedikit banyak menyingkap pakaian. Selain itu, fungsi pendidikan dalam pemberitaan/ ajakan donasi ini menjadi hilang. Bukankah “..mencerdaskan kehidupan bangsa..” menjadi agenda kita sebagai warga negara? Begitu juga dalam partikelir ‘pemberitaan penggalangan dana’, seyogyanya membawa nafas pendidikan. Lagipula, tanpa mengeksploitasi korban pun insyaAllah, tetap akan banyak masyarakat yang memberikan donasi kemanusiaan, because it is our nature as a human kind to giving help to each other.

Adib R
_____________

Resource:
Filosa Gita Sukmono dan Fajar Junaedi. “Menggagas Jurnalisme Optimis dalam Pemberitaan tentang Bencana”. Jurnal ILMU KOMUNIKASI. Vol 15. Nomor 1. Juni 2018: 107-120

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s