Kost Las Vegas?

Temen-temen di luar Jogja auto roaming ketika saya bahas kos LV. Apa sih Kost LV?

Jadi begini ontologi nya (ben koyo wong tau kuliah). Secara bahasa, LV adalah akronim dari Las Vegas. Secara epistemologi, Las Vegas adalah pengertian dari gaya hidup bebas sebebas-bebasnya sesuai asalnya: Kota Las Vegas yang penuh judi, kumpul kebo, nyimeng, dan keedanan lain. Jadi maksudnya, kos LV adalah kos bebas yang menerima laki perempuan (yang bukan keluarga, atau suami istri) dalam satu kompleks kos, bahkan dalam satu kamar kos dan bebas mau berbuat apa di kos tersebut. Perlu dibedakan, “kost LV” dengan “kost cowok (atau cewek) bebas jam malam” itu beda. Kost bebas jam malam ini untuk menyediakan karyawan yg pulang malam, atau mahasiswa yang ngerjakan tugas sampe larut malam.

Secara historisitas, kos LV ini dipasarkan dengan vulgar misal dengan redaksi “kos LV, bisa tinggal berdua dengan pacar..”, atau dipasarkan secara elegan “Kost exclusive bla bla bla bla” (intine yo podo, oleh kumpul kebo neng kos), ada yang memasarkan dengan malu-malu anjing dipasarkan kos putra, ternyata bebas bawa pacar cewek untuk nginep bareng (induk semang nya tidak bertanggungjawab) . Tapi datangnya pemasaran ini juga karena adanya demand yang vulgar juga “info kost LV dong, yang bisa tingal bareng pacar”, atau yg agak malu-malu “cari kost bebas dong, temen cowok/cewek boleh masuk”.

Kondisi sosial di kost LV ini cenderung apatis/cuek, bahasa kasarnya “terserah deh lu mau kumpul kebo atau kumpul trenggiling, yang penting jangan ganggu gue” atau sebaliknya, “hidup mereka bukan urusan gue”. Dengan paradigma seperti ini wajar saja bebas kumpul kebo. Namun bagi yang masih menjaga tradisi keramahan kota Jogja atau budaya jawa, hal seperti ini jelas bertentangan dengan prinsip guyup rukun. Semua menjadi serba “sak karepe dewe” atau individualis.

Dan na’asnya, masyarakat setempat pun jadi permisif atau melazimkan (atau mungkin ada yang tidak setuju namun tidak punya kekuatan untuk menolak ke perangkat desa). Imbasnya, kondisi sosial sekitar jadi apatis, pergaulan menjadi bebas, tidak kondusif untuk membesarkan anak dan seterusnya yang pada akhirnya mengikis keramahan dan guyup rukun yang selama ini menjadi budaya Jogja.

Regulasi Kost?
Sudah ada di Perda atau Perbup Sleman Nomor 57 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Pemondokan. Realitas? Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah secara penuh, karena di perda dijelaskan masyarakat mendapat peran sebagai monitoring dan dapat mengambil tindakan melalui jalur hukum. Namun jika ternyata masyarakatnya yang apatis apalagi yang bisa diharapkan?

Sebagian dari kaum permisif itu beralasan “Ini zaman sudah maju, sebuah keniscayaan dari kemajuan”. Tidak sepenuhnya benar, ada hal-hal yang memang harus diperjuangkan dan dijaga kelestariannya terkait budaya, jika memang kita mengaku menjaga budaya. Sebagai manusia, saya resah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s