Abdul Aziz & Disertasi Kumpul Kebo

Setidaknya sepekan ini linimasa media sosial saya ramai dengan beberapa topik: OPM & Banser, Pindah Ibukota, lalu paling hotnya adalah disertasi UIN Sunan Kalijaga dari Pak Abdul Aziz mengenai Seks Non Marital Tidak Melanggar Syariat. Dua topik lain cukup dibahas dengan satire sembari ngopi, sedangkan topik terakhir yaitu disertasinya Pak Aziz ini layak untuk disleding dengan power 10%.

#Interplay
Setelah viral disertasi UIN SuKa mengenai Kenthu/Seks (Kenthu adalah terminologi jawa yang memiliki makna rasa yang kasar) Non Marital Tidak Melanggar Syariat di portal berita online, UIN SuKa berusaha memberikan klarifikasi. Jelas hal ini adalah masalah serius, sehingga Pak Rektor sendiri yang harus menyampaikannya. Bagiaman tidak? Ini menyangkut norma dan budaya Indonesia. Entah ada interplay apa dibalik ini, sehingga terkesan promotor dan penguji (pihak UIN) hendak berlepastangan dari ulah Pak Aziz ini. Demikian berat sampai saya pun enggan menulis nama lengkapnya yang begitu bagus, kata orang Jawa “kabotan jeneng”.
Pihak UIN menyatakan bahwa disertasi tersebut berisi kritik dan telaah atas pemikiran Muhammad Syahrur atas pemikirannya dalam masalah seks non marital, namun di dalam abstraknya tidak dituliskan, sehingga membuat kesan bahwa penulis (Pak Aziz) menyetujui gagasan Syahrur. Hal ini tersurat dalam klarifikasi dari salah satu promotor: “Sayangnya, dalam abstrak, Abdul Aziz tidak menulis kritik tersebut. Malah menyebut konsep syahrur ini sebagai teori baru dan dapat dijadikan justifikasi keabsahan hubungan seksual non marital”. Teks dapat dilihat di sini. Sampai di sini saya anggap ada kasak kusuk yang tidak jelas, agar bagaimana UIN lepas dari isu ini.
Namun bagaimana mau lepas total sedangkan sidang proposal sudah dilakukan, yang berarti di ACC, sidang tertutup dan terbuka pun sudah dilakukan. Sampai di sini saya masih sedikit husnudzon bahwa memang tujuannya murni mengkritik pemikiran otak kopednya Syahrur, namun setelah membaca kalimat bejat Aziz di portal ini, penilaian saya bisa maksimal.
“Jadi seorang laki-laki boleh berhubungan seksual dengan perempuan lain secara nonmarital sepanjang tidak melanggar batas-batas. Pertama yang disebut zina. Apa itu zina? Zina di sini yang dimaksud adalah hubungan seksual yang dipertontonkan,” sebutnya.
“Kalau (berhubungan seksual) di kamar, tertutup, itu bukan zina, itu halal. Kedua perempuan yang sudah bersuami, yang ketiga dilakukan secara homo, dan yang keempat dengan sex party. Kemudian nggak boleh incest. Selain itu semua boleh,” tutupnya.
“Harapannya ada pembaharuan hukum Islam. Hukum perdata Islam, hukum pidana Islam, hukum keluarga Islam. Karena saya melihat hukum keluarga Islam baik di Indonesia maupun di beberapa negara yang lain sudah perlu ada pembaharuan,” katanya.
Sumber: detik
Dengan adanya kalimat tersebut, saya tidak ragu lagi memberi stempel si Aziz ini pemerkosa syariat sekaligus pelacur liberal. Zina ingin dia halalkan!
Benar apa yang disabdakan Nabi ﷺ
“Pasti akan ada dari umatku kaum kaum yang menghalalkan kemaluan haram (yaitu zina), sutra, khaner, dan alat alat musik.” (HR. Imam Bukhari)
Jika pelacur menjual kehormatannya karena terpaksa kondisi ekonomi, dan Aziz ini menjual aqidahnya secara sukarela, sungguh lebih baik pelacur tersebut selama ia meyakini haramnya zina.
#Filter UIN
Boleh saja para penguji menyatakan disertasi ini sudah sesuai prosedur yang berlaku dan sesuai dengan langkah-langkah ilmiah. Namun sebenarnya jika UIN mau menyaring mengenai topik disertasi maupun karya ilmiah lain, maka tulisan bejat semacam ini tidak akan muncul. Entah mengapa UIN lebih memilih tema yang mendekonstruksi syariat atau mendegradasi aqidah ketimbang mencari topik implmentasi syariat di era kekinian, sehingga mahasiswa berlomba mencari cara bagaimana syariat ditunaikan meskipun banyak tantangan di zaman ini, bukan malah membuat syariat baru. Dalam ingatan saya sudah cukup banyak karya tulis UIN atau IAIN ini yang kontra syariat, baik dari tulisan lama maupun tulisan terkini. Bahkan tidak jarang si peneliti rela berbohong dan memanipulasi data agar penelitiannya heboh dan viral (saya memiliki bukti atas kalimat ini), bahkan sampai dibaca dan diberi pengantar tokoh nasional.
UIN, anda bisa saja menjadi universitas yang terdepan dalam pengkajian positif, namun sayang anda lebih memilih menjadi pen-dekonstruksi syariat dan pen-degradasi aqidah. Bukankah masih banyak PR agar sains teknologi terkini disesuaikan dengan syariat? Mengapa justru membuat syariat baru agar sesuai dengan zaman?
Pak Aziz, anda beruntung tidak bertemu saya sebagai mahasiswa anda di kelas, karena saya tidak pernah ragu memberikan stempel atau cap “anda sesat” pada dosen jorok macam anda, saya tidak ragu, dan saya pernah melakukan sendiri di hadapan dosen. Sebagaimana anda mempermalukan Islam di hadapan publik, maka saya pula akan mempermalukan anda di hadapan publik.
__
Adib R
Alumni UIN SuKA
___
Baca juga kritik dari Ust Agus Hasan Bashori di sini
Ust Wira Bachrun di sini
Ust Abu Ubaidah As Sidawi di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s