Joker: Ledger & Phoenix

Rabu, 2 Oktober 2019 Joker (2019) resmi tayang perdana di cinema-cinema di Indonesia, tak terkecuali di Jogja. Atensi nya? Sejauh yang terlihat, semua seat penuh, padahal saat itu jadwal yang saya pilih cukup malam, 21.30 di XXI. Nonton movie di jam malem memang lebih enak juga, apalagi rating nya R, minim anak kecil yang diajak nonton, kecuali orangtuanya yang pekok.

Well, di sosmed setelah nonton Joker ini ada hype untuk compare antara Heath Ledger & Joaquin Phoenix. How is it? Is it apple to apple?

#Peran
Ledger bermain lebih seperti villain, teroris dan agen of criminal. Dia melakukan banyak kejahatan besar yang melibatkan orang banyak, dan menelan korban banyak. Termasuk para kartel dan mafia pun dikerjai oleh Joker. Ledger bermain sebagai antagonis dari superhero. Ibaratkan, Ledger bermain sebagai Joker yang sudah selesai bermetamorfosis sebagai kupu-kupu yang terbang bebas. Joker dengan starring Ledger memiliki kemampuan untuk memaksa orang baik mengeluarkan sisi buruknya, memaksa Batman dan Dent.

Phoenix bermain cenderung lebih ke arah agen of chaos, provokator, psikopat yang kehadirannya sangat mengganggu kelompok bangsa borjuis. Phoenix memerankan sosok berpenyakit mental yang menggerakkan chaos di tataran sosialnya. Dia tidak melawan tokoh protagonis, dia melawan keadaan dirinya sendiri dan kondisi sosial saat itu, dia bukan antagonis, melainkan protagonis. Jika dimisalkan, Phoenix bermain sebagai Joker yang dalam masa metamorfosis dari ulat ke kepompong kemudian ke kupu-kupu.

#Mental illness
Joker seperti yang mafhum dipahami, dia memiliki penyakit mental. Namun baru di film Joker (2019) yang diperankan Phoenix inilah detail penyakitnya dijabarkan. Dalam alur cerita ini, Arthur Fleck didiagnosis memiliki penyakit kejiwaan yaitu skizofrenia (schizophrenia). Skizofrenia sendiri adalah gangguan mental, gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku (alodokter: 2018).  Penderita skizofrenia akan sulit membedakan mana khayalannya sendiri dan mana keadaan nyata/realita.

Arthur Fleck harus kontrol rutin ke dokter/psikiatri nya untuk mendapat obat dan pengawasan penyakit mentalnya. Manakala kondisi ekonomi Gotham memburuk, dan tunjangan kesehatan dihentikan, Fleck tidak dapat lagi mengkonsumsi obatnya. Maka kemudian ia berhalusinasi seolah ia jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan tetangganya yang kulit hitam (Zazie Beetz). Dan beberapa saat terungkap dalam scene, ternyata itu hanya halusinasi Arthur Fleck saja.

#Tema Schizophrenia
Berbicara tentang skizofrenia ini, sebenarnya ada beberapa film recomended yang mengangkat tema ini, seperti: A Beautiful Mind (2001) dengan aktor utama adalah Russell Crowe, menariknya film ini adalah film biografi yang diangkat dari tokoh nyata seorang matematikawan. Tidak kalah menarik, dan bahkan sejauh ini film thriller terbaik yang pernah saya tonton untuk kategori fiktif/fantasi adalah Shutter Island (2010) yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Dan sampai akhir film ini, disisakan misteri dengan alur terbuka yang membuat penonton akan berdebat mengenai tokoh utamanya.

Well, dengan ulasan di atas, apakah apple to apple membandingkan Joker dengan pemeran dan jalan cerita dari Ledger dan Phonix? In my opinion: tidak apple to apple.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s