Ikigai: Prologue dan Islam

What is the meaning of my life?
Is just the point to live longer? or should i seek a higher purpose?
Why do some people know what they want and have a passion for life, while others languish in confusion?

Demikian tiga pertanyaan awal di prolog buku ini. Sebagai seorang muslim, tiga pertanyaan ini dapat dijawab dengan dua sudut pandang: sudut kita sebagai hamba pada Rabbnya, dan sudut kita sebagai hamba terhadap diri sendiri atau hamba lainnya.

Perspektif #1
Jika kita jawab dari sudut pandang hamba terhadap Rabbnya: Pertama, arti dari hidup adalah untuk beribadah dan beribadah tidaklah disebut ibadah tanpa tauhid. 
“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56), “Ketahuilah, Ibadah tidak bisa disebut ibadah (tidak sah) tanpa tauhid.
Sebagaimana shalat tidak bisa disebut shalat (tidak sah) tanpa thaharah (bersuci). Apabila ibadah termasuki oleh syirik maka akan menjadi rusak.” [Matan Qawaidul Arba’]
Kedua, dalam khazanah Islam usia tidak dinilai berdasarkan kuantitas, namun kualitas. Seseorang dengan umur pendek namun meninggalkan segudang manfaat (sunnah hasanah) tentu lebih utama daripada seseorang yang berusia panjang namun meninggalkan segudang keburukan yang ditiru banyak orang (sunnah sayyi’ah). Jelas usia seorang muslim didedikasikan untuk beramal, menempuh jalan menuju surga Allah Ta’ala. Itulah tujuan tertinggi.
Ketiga, kadang seseorang hamba ia ingin menuju surga Allah Ta’ala, namun tidak tau jalan menujunya. Terkadang ia menempuh jalan menuju surga melalui jalan sedekah terasa lebih mudah baginya, namun sulit untuk menuju surga melalui jalan puasa. Sebagian lain lebih mudah menempuh jalan menuju surga dengan berpuasa, sedangkan terasa agak berat dengan bersedekah (berbentuk harta). Demikianlah seseorang muslim, selalu berupaya mencari mana jalan-jalan menuju surga Allah Ta’ala dari jalan yang paling mudah dan lebih sustainable baginya.


Perspektif #2
Buku ini akan membahas mengenai perspektif ini, yaitu perspektif hamba terhadap dirinya atau lingkungan sekitarnya, yang mana hal ini akan membawa manfaat untuk dunianya, atau bahkan juga bagi kehidupan akhiratnya. Seperti misalnya seseorang memiliki passion dalam dunia IT, dan ternyata passion ini dapat ia manfaatkan untuk berdakwah atau membantu sesama sehingga tercatatlah baginya sedekah atau ilmu jariyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s