Seindah Itu Cinta Keduanya

Pernah dalam suatu tugasku di kerelawanan, mengalami hal yang menyesakkan dada, menguras air mata dan meremuk redam jiwa. Dalam satu tugas itu bercampur rasanya, marah, sedih, simpati, dan takjub. Kisah cinta dua insan, suami istri.

Seorang muslimah yang juga tenaga pendidik di TK (atau SD, aku lupa), mendapat ujian berupa kanker payudara. Alhamdulillah, kanker dapat dideteksi lebih awak. Lalu oleh suaminya diantarkan ke RS untuk mendapat penanganan medis. Diperiksa, dan kemudian diberikan obat oleh dokter. 

Pada awalnya konsumsi obat lancar, entah sejak kapan dan siapa yang mengompori untuk kemudian meninggalkan obat medis dan beralih ke herbal secara total tanpa pertimbangan dokter ataupun pakar herbal yang tersertifikasi. Padahal sifat herbal yang beredar di pasaran itu sifatnya preventif, dan efeknya dalam jangka waktu yang lama (dengan izin Allah). Obat herbal bukan sejenis obat untuk dapat melawan virus/penyakit dengan cepat. Yang bertugas membunuh penyakit adalah obat medis yang sudah dirancang sedemikian rupa. Kalaupun ingin memakai herbal harus ada pertimbangan medisnya. Qodarulloh, herbal belum mampu menangani kanker (kalau ada, itu kasuistik, belum bisa digeneralisasi atau dijadikan pijakan ilmiah) dan kondisi semakin parah.

Semakin parah dan si istri tadi hanya bisa berbaring sehari-harinya. Jarang bergerak, dan kurang terjaga, akhirnya ketika akan dipindahkan dari tempat tidur ke dragbar, beliau merintih kesakitan dengan rintihan yang memilukan. Dengan tangisan yang mengaduh. Saat itu jaringan kanker sudah mencapai otak. Badan beliau sudah mengurus, keceriaan telah hilang dari raut wajahnya. Dan saat kami memindahkan beliau dari tempat tidur ke dragbar, rasanya mata kami sudah memerah, air mata mengalir sedikit tertahan. Ingin rasanya menangis sejadi-jadinya, namun aku khawatir kalau tidak dapat menahan tangis, justru memberatkan pasien dan suaminya, padahal suaminya sudah tegar. Berusaha menyelesaikan tugas dengan kaki yang tergopoh-gopoh, jiwa yang goncang. Selesai antar pasien, dan bertepatan dengan waktu ashar. Kami sholat, jelas sudah tak terbendung. Tangis redup redam dalam sholat. Terisak dalam heningan sholat ashar.

Si suami sampai akhir hayat istrinya tetap setia merawat dan menemani, sembari tentu dia berjuang mencari nafkah untuk dia dan keluarganya. Juga menggantikan peran ibu untuk anak-anaknya selagi sang ibu sakit dan tak berdaya. Aku takjub melihat si suami yang begitu tabah dan tegar dengan kesakitan istrinya. Tak pernah kulihat dia menetes air matanya. Mungkin telah terbiasa, juga agar si istri tidak bersedih.

Setelah kejadian itu, jika aku mendapat masalah, entah berupa fisik atau hati, lalu mengingat keluarga kecil itu (mereka sudah memiliki anak-anak kecil) seolah masalahku jadi lebih ringan. Aku bersyukur. Seberapa berat, aku masih sehat, masih diberikan waktu luang, diberikan hidayah dan taufiq untuk dapat membantu sesama. Untuk ikut merasakan pahit dan perihnya sakit orang-orang di sekitarku.

Tugas itu begitu membekas, karena tak lama setelah itu beliau wafat. Semoga dalam husnul khotimah. Marah, terhadap siapa saja yang memprovokasi mengkonsumsi herbal dan meninggalkan obat medis. Sedih, sebegitu menderitanya seorang ibu terbaring di tempat tidur tidak bisa mengasuh anak-anaknya, melayani suaminya. Simpati dan takjub dengan kesabaran dan kasih sayang suaminya yang tekun merawat istrinya, menempuh jalan-jalan ikhtiar untuk mencapai kesembuhan.

Demikianlah satu dari sekian episode tentang cinta, memberikan kekuatan dan ketabahan. Cintanya asli dan murni, begitu dalam dan luas. Hangat dan damai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s